Viral Video Pesta Perkawinan di Masjid Nurul Iman Padang, Ini Kata Pengurus dan Hukumnya Menurut Fatwa MUI

oleh -45 views
Video viral pelaksanaan resepsi perkawinan di Masjid Nurul Iman Padang ini, sintak menghebohkan jagad dunia maya.

PADANG (BM)– Viral Masjid Nurul Iman jadi tempat baralek dengan orgen tunggal, Ahad (28/10), menguras perhatian masyarakat Minang sejagat raya. Semua lini media sosial buncah sampai berita ini diturunkan.

Ketua Masjid Nurul Iman Mulyadi Muslim mengaku terkecoh oleh yang hajat baralek, karena izin yang diminta hanya untuk ijab kabul saja.

Surat permohonan ke masjid hanya untuk meminjam lantai 2 untuk akad nikah. Tidak untuk musik berlebihan,” katanya kepada Singgalang, Senin (29/10).

Ia mengaku langsung menghentikan orgen tunggal tersebut, meski musiknya bernuansa Islami.

“Kejadian hari Ahad yang baralek membawa tim nasyid dengan peralatan keybord. lagu-lagunya bernuansa religi,” tuturnya.

Lantas, bagaimana hukum menggunakan area masjid untuk pelaksanaan perta perkawinan?

MUI menerbitkan fatwa tentang pemanfaatan area masjid untuk kegiatan sosial dan yang bernilai eknomis. Fatwa ini diterbitkan untuk menjawab pertanyaan masyarakat tentang hukum menggunakan area sekitar masjid untuk acara non-ibadah mahdlah seperti menggelar pesta perkawinan, pusat usaha, walimah, seminar, pentas seni budaya atau perdagangan.

Baca Juga :   Pembunuh Anggota TNI Tewas Didor

Selama ini sebenarnya area masjid yang bukan lokasi ibadah sudah sering dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan ekonomi. Di beberapa tempat, pembangunan masjid malah diintegrasikan dengan aula pertemuan. Lalu, bagaimana hukumnya?

Ada enam ketentuan hukum yang disebutkan dalam fatwa tersebut. Pertama, masjid dan area masjid dapat dimanfaatkan untuk kegiatan di luar ibadan mahdlah. Ibadah mahdlah adalah ibadah wajib seperti shalat.

Kedua, pemanfaatan area masjid untuk kepentingan muamalah seperti sarana pendidikan, ruang pertemuan, area permainan, baik yang bersifat sosial maupun ekonomi diperbolehkan dengan syarat: kegiatan tersebut tidak terlarang secara syar’i, senantiasa menjaga kehormatan masjid, dan tidak mengganggu pelaksanaan ibadah.

Ketiga, memanfaatkan bagian dari area masjid untuk kepentingan ekonomis, seperti menyewakan aula untuk resepsi pernikahan, hukumna boleh sepanjang ditujukan untuk kepentingan kemakmuran masjid dan tetap menjaga kehormatan masjid.

Keempat, boleh menjadikan bangunan masjid bertingkat; bagian atas untuk ibadah dan bagian bawah disewakan atau sebaliknya dengan syarat. Syaratnya adalah bagian masjid ang disewakan bukan secara khusus untuk ibadah; bagian masjid yang dimaksudkan secara khusus untuk ibadah telah memadai; tidak menyulitkan orang masuk ke dalam masjid; tidak mengganggu pelaksanaan ibadah di dalam masjid; tidak bertentangan dengan kemuliaan masjid antara lain dengan menutup aurat; dan dimanfaatkan untuk keperluan yang sesuai syar’i dan hasil sewanya untuk kemaslahatan masjid.

Baca Juga :   Pemkab Siak Gelar Rapat Sinkronisasi Bahas Antisipasi Karhutla dan Pengamanan Tahun Baru

Kelima, melakukan penggantian (istidbal) tanah wakaf yang ditujukan untuk kepentingan masjid diperbolehkan, sepanjang memenuhi syarat, baik secara syar’i maupun teknis dengan merujuk pada fatwa kesepakatan ulama Komisi Fatwa tahun 2009. Demikian pula istidbal peruntukan tanah wakaf diperbolehkan jika ada kemaslahatan yang dituju.

Keenam, benda wakaf boleh diambil manfaatnya dengan memberdayakan secara konomi, dan tetap wajib dijaga keamanan dan keutuhan fisiknya.

Selain keenam aturan hukum tersebut, fatwa MUI juga mengimbau pengurus masjid untuk secara kreatif memakmurkan masjid dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan ibadah dan muamalah masyarakat. (*)