“Taste of Padang”, Matangkah?

oleh -35 views

Oleh: GEVIN

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unand

 

SATU tahun yang lalu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengangkat slogan “Taste of Padang” yang menggambarkan kekayaan adat dan budaya serta keindahan alam daerah minang. Sebut saja dari segi kuliner dan kebudayaannya. Di kuliner, Sumatera Barat sudah terkenal dengan masakan Padang yang sudah tersebar luas di seluruh daerah Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa mencicipi bagaimana rasa dari masakan Padang.

Salah satu masakan Padang yang terkenal adalah rendang. Rendang didaulat sebagai kuliner terenak sedunia versi situs berita CNN dua tahun berturut-turut yaitu 2016-2017. Selain rendang, banyak kuliner khas lain yang tidak kalah enaknya, seperti kalio jariang, itiak lado hijau, dan gulai pakih. Tidak hanya kuliner, Sumatera Barat juga terkenal akan seni budayanya.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan setempat, tercatat lebih dari 100 macam pakaian adat untuk perempuan saja. Ini membuktikan bahwa Sumatera Barat merupakan daearah yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata.

Berangkat dari keanekaragaman itulah pemerintah pusat melalui Kementrian Pariwisata menitipkan slogan “Taste of Padang” yang nantinya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun internasional untuk berkunjung ke ranah minang.

Namun, belakangan ini slogan tersebut seolah lenyap. Ini dibuktikan tidak adanya iklan ataupun promosi yang dilakukan pemerintah daerah kepada masyarakat luas. Kalau kita kaji kebelakang, slogan “Taste of Padang” ini sempat menuai pro dan kontra.

Baca Juga :   Pesawat Berpenumpang 180 Orang Jatuh Usai Lepas Landas di Bandara Iran

Bermula saat diselenggarakannya Hari Pers Nasional pada bulan februari lalu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memanfaatkan rangkaian kegiatan tersebut untuk memperkenalkan slogan pariwisata mereka, yakni “Taste of Padang” yang bermakna cita rasa Kota Padang. Slogan ini diharapkan dapat membantu perekonomian daerah melalui sektor pariwisata.

Banyak pihak yang menyayangkan pemakaian kata ‘Padang’ pada slogan tersebut yang dianggap memiliki makna terlalu sempit. Tapi pada akhirnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tetap bersikukuh memakai kata “Padang” pada slogan “Taste of Padang”. Sampai saat ini, pemerintah daerah bersama akademisi dan juga pelaku bisnis masih melakukan FGD “Focus Group Discussion” terkait slogan tersebut.

Menurut saya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang mempelajari ilmu branding, seharusnya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggencarkan promosi dari slogan tersebut. Baik itu di daerah Sumatera Barat sendiri maupun di daerah luar Sumatera Barat, karena bagi saya sendiri yang berasal dari Sumatera Barat masih merasa asing dengan slogan “Taste of Padang”.

Slogan hanya salah satu unsur dari branding, seperti yang kita tau branding itu sendiri merupakan proses yang sangat panjang yang bertujuan mengubah persepsi masyarakat terhadap suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Itu merupakan proses mengedukasi pasar, dimulai dari tahap unaware of brand (tidak menyadari merek) sampai ke tahap top of mind (puncak pikiran).

Ini semua didukung dengan adanya pengenalan berupa iklan atau promosi kepada masyarakat. Kalau tidak ada iklan, bagaimana masyarakat akan tau terhadap slogan yang kita angkat. Iklan atau promosi itu sendiri harus dilakukan secara konsisten yang bertujuan agar masyarakat mengingat suatu produk atau jasa yang ditawarkan.

Baca Juga :   Luapan Sungai Kandilo Rendam 5 Desa di Kaltim

Kalau kita lihat branding dari suatu jasa, sebut saja branding yang dilakukan salah satu e-commerce Shopee, mereka melakukan proses branding yang luar biasa. Ini bisa kita lihat dari iklan-iklan yang mereka publish di social media seperti YouTube ataupun di media massa seperti televisi. Mereka melakukan promosi setiap harinya dan proses dari branding ini sendiri dianggap berhasil.

Ini dibuktikan dari survei perusahaan Markplus Inc, salah satu perusahaan konsultan marketing lokal di Indonesia. Mereka mengadakan sebuah survei terkait brand awareness pemain e-commerce di Indonesia. Dari responden yang mengaku menggunakan e-commerce minimal 4x dalam 3 bulan terakhir, didapatkan data bahwa Shopee (31%) menjadi top of mind brand.

Temuan ini tidak jauh berbeda dengan hasil riset DailySocial yang diterbitkan beberapa waktu yang lalu. Tentu hasil tersebut merupakan dampak dari proses branding Shopee melalui iklan-iklan yang mereka publish secara konsisten. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tentu dapat meniru langkah-langkah yang dilakukan salah satu e-commerce terbesar di Indonesia tersebut.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri sepertinya belum ‘matang’ dalam proses pemberian slogan “Taste of Padang”. Ini terlihat dari program Pemerintah Kota Payakumbuh yang juga mengangkat slogan “Payakumbuh, City of Randang”.

Tentu langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Payakumbuh ini patut dipertanyakan. Slogan dari “Taste of Padang” ini direncanakan dapat mencerminkan pariwisata yang ada pada 19 Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Barat. Tapi di lain hal, Pemerintah Kota Payakumbuh juga mengangkat slogan “Payakumbuh, City of Randang”. Ini seolah slogan dari “Taste of Padang” tidak merepresentasikan wisata yang ada pada Kota Payakumbuh.

Baca Juga :   20 Orang di Jawa Timur Meninggal karena DBD

Jika ini salah satu strategi mono branding, dimana ada branding didalam suatu branding maka kata “Padang” yang ada pada slogan “Taste of Padang” tentunya harus diganti. Jangan sampai masyarakat luar dari Provinsi Sumatera Barat berpendapat bahwa Kota Payakumbuh merupakan bagian dari Kota Padang.

Saya sebagai masyarakat Sumatera Barat tentu berharap lebih dengan adanya proses branding ini, kita semua tidak ingin mengulang kesalahan dari beberapa daerah yang gagal dalam proses City branding. Seperti halnya Jogja ketika mem-brand-kan dirinya dengan “Never Ending Asia”, karena tidak sesuai dan akhirnya ditolak, kemudian diproses kembali sehingga menjadi “Jogja Istimewa”.

Begitu halnya dengan Bandung, yang awalnya “Stunning Bandung”, karena tidak sesuai dan berubah menggunakan “.bdg”. Branding bukan hanya tentang slogan, tapi lebih jauh daripada itu. Seperti halnya branding, slogan juga bukan apa yang kita sebutkan tentang diri kita, tapi apa yang orang lain sebutkan tentang kita.

Branding seharusnya bisa menjadi intangible asset bagi daerah tersebut, sehingga berdampak baik pada perkembangan kota serta kesejahteraan warga yang tinggal di dalamnya. (*)