Tan Malaka, Tokoh Berjuta Misteri

oleh -54 views

TAN MALAKA lahir pada 2 Juni 1897 di Kabupaten Suliki, Sumatera Barat dengan nama asli Sutan Ibrahim. Namun Tan Malaka mendapat gelar dari garis keturunan ibunya, Sinah Simabur sehingga nama lengkapnya menjadi Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Ibu Tan Malaka memang seorang putri dari orang yang terpandang di desanya, sementara sang ayah, Rasad Caniago merupakan seorang karyawan pertanian.

Tan Malaka kecil hidup di tengah keluarga yang sangat agamis. Bahkan diusianya yang masih sangat muda, Tan Malaka sudah hafal ayat-ayat Al-Quran.

Selama hidupnya, Tan Malaka tidak pernah tercatat memiliki istri. Tan Malaka memang beberapa kali sempat jatuh cinta dengan perempuan, namun kisah asmaranya tidak pernah berakhir di pelaminan.

Tan Malaka mengenyam pendidikan di Kweekschool, sebuah sekolah guru di Sumatera Barat ketika usianya menginjak 11 tahun pada 1908.

Lulus dari Kweekschool, Tan Malaka melanjutkan pendidikannya di Rijkskweekschool, sebuah sekolah Pendidikan guru di Belanda. Tan Malaka pun harus terbang meninggalkan desanya ke Belanda pada 1913 dan berhasil menyelesaikan pendidikannya enam tahun kemudian pada 1919.

Sekolah di Belanda membuat pola pikir Tan Malaka berubah drastis. Tan Malaka mulai akrab dengan buku dan pemikiran sosialisme dan komunisme.

Pengetahuan Tan Malaka tentang dunia luar, terutama soal revolusi begitu melekat di pikirannya, terlebih setelah ia membaca buku de Fransche Revolutie.

Apalagi saat itu sedang terjadi revolusi di Uni Soviet, hal tersebut membuat Tan Malaka semakin serius mendalami pemikiran-pemikiran sosialisme dan komunisme. Tan Malaka mulai akrab dengan buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, maupun Vladimir Lenin.

Pulang dari Belanda pada 1919, Tan Malaka mulai bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan di Deli. Di sana, Tan Malaka mengajar Bahasa Melayu.

Baca Juga :   BJ Habibie, Presiden yang Ahli Pesawat Terbang Tiada Banding

Selama mengajar Tan Malaka melihat ketimpangan sosial yang ada di lingkungan perkebunan antara kaum buruh dan tuan tanah, hal ini kemudian membuat semangat perlawanan di dalam dirinya menjadi membara. Tan Malaka kemudian menuliskan penderitaan para kaum buruh itu di Sumatera Pos.

Selain itu, Tan Malaka juga saling berkirim surat dengan rekan-rekannya di Belanda. Hingga akhirnya Tan Melaka menulis artikel berbahasa Belanda dengan judul kaum Bolshevik Het Vrije Woord (Kata yang bebas) yang terbit di Sematang.

Tan Malaka juga menuliskan brosur dengan judul “Sovyet atau Parlemen”, yang berisi tentang pandangan Tan Malaka terkait dua bentuk pemerintahan tersebut dan dimuat di majalah Soeara Rakjat.

Pada 1920, Tan terpilih menjadi anggota Volksraad (dewan rakyat) mewakili kaum kiri. Namun Tan Malaka hanya bertahan selama setahun sebagai anggota Volksraad sebelum akhirnya mengundurkan diri dan memilih membuka sekolah rakyat di Semarang.

Di sana Tan Malaka bertemu dengan tokoh pergerakan lain seperti Cokroaminoto, Semaun, dan K.H. Agus Salim. Tan Malaka pun mulai serius di dunia politik. Pada kongres PKI yang diselenggarakan pada 24 sampai 25 Desember, Tan Malaka bahkan terpilih menjadi pimpinan partai.

Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena ternyata pada 1922 Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda karena dituduh terlibat aksi pemogokan buruh perkebunan. Tan Malaka kemudian dibuang ke Belanda dan tidak lama kemudian ia pindah ke Moskwa.

Selama masa pengasingan tersebut, Tan Malaka menulis beberapa buah buku. Seperti buku berjudul Naar de Republick Indonesi, yang ia tulis pada 1925 ketika sedang berada di Tiongkok. Buku inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Indonesia sebagai negara republik.

Melalui bukunya itu Tan Malaka mengajak kaum cendikiawan Indonesia untuk berjuang meraih kemerdekaan Indonesia dan peka terhadap hati nurani rakyat.

Baca Juga :   Penyair Iyut Fitra Tolak Penghargaan dari Pemko Payakumbuh

Tan Malaka juga melontarkan pemikirannya mengenai program politik, ekonomi dan sosial, bahkan kemiliteran yang diperlukan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Antara tahun 1942 sampai 1943, Tan Malaka juga menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), salah satu bukunya yang paling penting dan fenomenal.

Tan Malaka menyuguhkan sebuah cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama yang dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam.

Pemikiran dialektikanya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Soekarno-Hatta) dengan Golongan Muda (pemuda pejuang).

Tan Malaka sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan penjajah, sekaligus menaruh harapan kepada golongan muda sebagai ujung tombak perjuangan.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sempat ditawari oleh Sutan Syahrir untuk menjadi ketua Partai Sosialis.

Namun Tan Malaka menolak, ia menganggap Syahrir bukanlah sosok revolusioner seperti dirinya. Tan Malaka juga mengatakan kalau ia enggan memimpin partai sosial demokrat karena ia adalah seorang komunis.

Di samping itu, Tan Malaka juga tidak menyukai jabatan resmi, ia ingin memberi gambaran bahwa ia berada di atas partai-partai.

Tan Malaka justru memilih menjadi oposan pemerintah Sukarno – Hatta. Bersama beberapa tokoh lain, Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan yang merupakan aliansi 141 organisasi politik.

Persatuan Perjuangan ini menuntut kemerdekaan 100% untuk Indonesia dan menolak jalan perundingan seperti yang dilakukan kabinet Syahrir.

Tan Makaka sempat ditangkap dan ditahan karena diuga terlibat dalam aksi kudeta pada 3 Juli 1946 yang gagal.

Tan Malaka ditahan tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Tan Malaka baru dikeluarkan setelah meletusnya pemberontakan FDR/PKI di Madiun pada September 1948 yang dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifudin.

Baca Juga :   Awaloedin Djamin, Kapolri Pertama dan Satu-satunya Asal Ranahminang

Tan Malaka kemudian mendirikan Partai Murba pada 7 November 1948 di Yogyakarta. Meski menjadi pendiri, namun Tan Malaka enggan menjadi pimpinan partai. Sehingga Sukarni yang notabene jauh lebih muda dipilih menjadi ketua partai.

Pada Februari 1949, Tan Malaka dan anak buahnya ditangkap dan ditembak oleh tantara Indonesia di Kediri, Jawa Timur.

Selama bertahun-tahun makamnya tidak pernah diketahui keberadaannya. Baru [ada 2007, seorang peneliti asal Belanda, Herry Poeze mengemukakan bahwa makam Tan Malaka ada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur.

Pada 16 Februari 2017, jenazah Tan Malaka dipindahkan ke tanah kelahirannya di Nagari Pendam Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat atas permintaan keluarganya.

Nama Tan Malaka diabadikan sebagai Pahlawan Nasional sejak diterbItkannya Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1963 tanggal 28 Maret 1963.

Selain sebagai tokoh hebat, Tan Malaka yang penuh misteri ini juga menulis sejumlah buku. Diantaranya :

  • Parlemen atau Soviet (1920)
  • SI Semarang dan Onderwijs (1921)
  • Dasar Pendidikan (1921)
  • Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1922)
  • Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) (1924)
  • Semangat Muda (1925)
  • Massa Actie (1926)
  • Local Actie dan National Actie (1926)
  • Pari dan Nasionalisten (1927)
  • Pari dan PKI (1927)
  • Pari International (1927)
  • Manifesto Bangkok (1927)
  • Aslia Bergabung (1943)
  • Muslihat (1945)
  • Rencana Ekonomi Berjuang (1945)
  • Politik (1945)
  • Manifesto Jakarta (1945)
  • Thesis (1946)
  • Pidato Purwokerto (1946)
  • Pidato Solo (1946)
  • Madilog (1948)
  • Islam dalam Tinjauan Madilog (1948)
  • Gerpolek (1948)
  • Pidato Kediri (1948)
  • Pandangan Hidup (1948)
  • Kuhandel di Kaliurang (1948)
  • Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948)
  • Dari Pendjara ke Pendjara (1970) *****