Sampah Visual Teror Warga, RAMURA: Caleg Abai Soal Etika

oleh -62 views

PADANG (BM)– Pemasangan atribut kampanye kian tidak memperhatikan etika. Alat peraga yang semula jadi media para calon legislator mengenalkan diri ke publik, justru membuat masyarakat menjadi jengkel.

Mulai dari spanduk, poster, stiker, baliho hingga bendera partai dipasang sembarangan. Di pinggir-pinggir jalan, di pohon, di tiang-tiang. Semua dipasang secara bertumpuk-tumpuk, hingga merusak pemandangan. Alat-alat peraga itupun, menjadi sampah visual yang merebut ruang publik.

Lantas, siapa yang mesti bertanggung jawab atas sampah-sampah iklan politik itu? “Tentunya mereka yang memasang dan menyebar sampah visual itu, bukan rakyat,” kata Ketua Rang Mudo Rindang Alam (RAMURA) Kel. Koto Lua Kec. Pauh Kota Padang, Ryan Syair menjawab batammedia.com, Minggu (21/10).

Pun demikian, dia pesismistis partai dan caleg akan mau bertanggungjawab. Apalagi, KPU juga dianggap tidak berdaya mengatasi sebab tidak adanya ketegasan dalam menegakkan sanksi bagi para pelanggarnya.

“Sampah visual adalah teror parah yang tidak bisa dipandang sepele. Pasalnya, dari segi desain, iklan itu membuat kreativitas jadi tumpul, karena bentuk dan isinya yang hampir sama. Pemasangannya pun menjarah ruang publik. Jangankan untuk membersihkan, memasangpun mereka tidak minta izin,” kata Ryan yang turut didampingi Wakil Ketua RAMURA, Arvin Badrika.

Baca Juga :   Sebulan, Napi Asimilasi Curi 7 Motor

Terhadap kondisi itu timpal Arvin, sepanjang Minggu sore kemarin pemuda mulai menertibkan spanduk-spanduk milik beberapa caleg yang dipasang tanpa izin di ruang-ruang publik di lingkungan komplek Rindang Alam.

“Padahal tujuan mereka adalah meraih simpati pemilih, tapi caranya sangat tidak mendidik. Mereka para caleg, seperti mengabaikan soal etika. Spanduk mereka tidak kami rusak, cuma kami tertibkan saja,” tegas Arvin didampingi Dameg, Zizi, Yoga, Restu dan beberapa pemuda lainnya.

Ketua RW III Kel. Koto Lua, Ir. Emil Satria, juga mengaku risih dengan sampah-sampah visual itu. Dia bahkan menyerahkan sepenuhnya kepada pemuda untuk mengambil tindakan atas menyampahnya spanduk-spanduk yang tidak memenuhi kaidah lingkungan dan mengganggu pemandangan itu.

“Ya silakan saja. Ini tentu ranahnya pemuda, yang dalam hal ini merupakan wujud kepedulian mereka terhadap lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Emil.

Emil mengatakan, pada prinsipnya warga Rindang Alam sangat terbuka bagi siapa saja calon legislatif yang akan bersosialisasi di lingkungannya. Namun demikian, tentu harus diperhatikan pula etika dan adab-adab dalam berpolitik, terutama dalam pemasangan spanduk dan APK lainnya. Sehingga tidak mengganggu terhadap keindahan, serta kenyamanan warga.

Baca Juga :   Sekwan DPRD Batang Hari Jambi Ke Kuansing Bahas Tata Cara Rapat Banggar

“Bukan berarti kami tidak membolehkan. Kami justru sangat terbuka dan demokratis. Nanti akan kami siapkan regulasi yang khusus mengatur ini. Selain akan menjadi media kampanye caleg, juga akan menjadi edukasi politik bagi warga, papar Emil. (*)

 

Laporan: Yuleo Estivan