Rupiah Lesu, Ini Kebijakan Pemerintah

oleh -57 views
Nilai tukar rupiah terus melemah. Hingga Jumat siang, rupiah tembus Rp 15.180/ US$

JAKARTA (BM)–Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah akan segera menerbitkan kebijakan jangka menengah untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Menurut dia, depresiasi rupiah yang terjadi selama ini disebabkan karena ketidakpastian global yang berakar dari dua hal, yakni perang dagang dan perbaikan kondisi makroekonomi AS.

Sebenarnya, dua hal tersebut tidak memiliki dampak riil yang kuat ke perekonomian. Ini terlihat dari proyeksi Bank Dunia yang meramal pertumbuhan ekonomi global akhir tahun nanti di angka 3,1 persen atau tak berbeda jauh dari tahun lalu, yakni 3,15 persen.

Hanya saja, riuh dan gemuruh mengenai ketidakpastian global ini sangat kencang, sehingga bikin panik pasar modal. Imbasnya, Indonesia mengalami arus modal keluar dan berujung pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sehingga, pemerintah berencana untuk menerbitkan kebijakan jangka menengah demi mengantisipasi hal tersebut. Hanya saja, ia masih belum mau membeberkan isinya.

“Kami tidak lagi memikirkan kebijakan jangka pendek. Apa saja itu, ya tunggu saja nanti kami akan jelaskan,” jelas Darmin di Kementerian Keuangan, Jumat (5/10).

Baca Juga :   Diduga Diperas Oknum Jaksa dan LSM, Seluruh Kepsek di Inhu Mundur

Saat ini, lanjut Darmin, daya tahan pemerintah untuk menangkal serangan eksternal kian dibutuhkan. Sebab, kondisi makroekonomi AS kian membaik, di mana pertumbuhan ekonomi telah mencapai 4,1 persen pada kuartal II lalu. Padahal, angka pertumbuhan ekonomi di kuartal I hanya sebesar 2,2 persen.

Ia juga mengaku heran AS masih bisa membukukan pertumbuhan yang baik di kala perang dagang semakin ricuh. AS sendiri saat ini tercatat melakukan perang tarif dengan China hingga Uni Eropa.

Apalagi, menurutnya, perang dagang tidak bisa direm sangat cepat karena masing-masing negara sudah memikirkan instrumen, selain tarif, sebagai amunisi perang dagang, sehingga ketidakpastian global diprediksi semakin akut.

“Ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari. Itu akan jalan terus. Malah kalau tadinya dibilang berhenti kuartal I tahun depan, kayaknya tidak akan,” imbuhnya.

Untuk menangkal depresiasi yang terlalu dalam, pemerintah sebelumnya menyusun kebijakan demi memperbaiki neraca pembayaran. Sebab, neraca pembayaran yang semakin baik membantu memupuk devisa, sehingga Bank Indonesia bisa bergerak dengan leluasa.

Baca Juga :   Luhut: Tenaga Kerja Asing Dibutuhkan

Kebijakan yang diambil terdiri dari kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) 22 impor bagi 1.147 pos tarif serta implementasi pencampuran biodiesel sebesar 20 persen terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) atau disebut biodiesel. Ini melengkapi kebijakan BI yang sudah menaikkan suku bunga sampai 150 basis poin sepanjang tahun ini.

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (5/10). Posisi ini melemah poin atau persen dari kemarin sore, Kamis (4/10). (*)

 

Sumber: cnbcindonesia

Editor: Ryan Syair