Relawan Penyelam Lion Air JT-610 Meninggal Saat Bertugas, Ini Dia Sosok Pejuang Kemanusiaan Itu

oleh -47 views
Syahrul Anto semasa hidupnya.

KARAWANG (BM)– Seorang relawan penyelam pesawat Lion Air JT-610, Syahrul Anto (48), meninggal dunia dalam kecelakaan menyelam saat bertugas mengevakuasi penumpang di perairan Karawang. Syahrul menghembuskan nafas terakhirnya saat bertugas, Sabtu (3/11) dinihari.

“Saya memang mendapatkan informasi itu, nanti disampaikan lebih lengkap oleh Kepala Basarnas,” ujar Yusuf Latif, Humas Basarnas, Sabtu (3/11) pagi.

Syahrul dikabarkan meninggal pada Sabtu (3/11), pukul 02.00 WIB di Dermaga JICT II (Posko Basarnas) di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dugaan sementara, Syahrul mengalami kecelakaan tenggelam pada saat mengevakuasi penumpang Lion Air JT-610. Ia sempat dibawa ke RSUD Koja, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Lantas, bagaimana sosok Syahrul?

Dalam wawancara beberapa hari sebelumnya, ia bercerita awal dirinya bergabung dalam tim relawan pesawat Lion Air yang jatuh. Pertama kali mendengar kabar tersebut, ia langsung terbang dari Yogyakarta ke Jakarta.

Alm Syahrul saat bertugas.

“Waktu kejadian ini, saya ada di Sleman. Peralatan selam ada di Makassar. Begitu ada kabar, saya langsung berangkat ke sini (Jakarta). Alat dikirim ke sini,” tutur almarhum ketika diwawancarai CNNindonesia pada Rabu (31/10) lalu.

Baca Juga :   Konsumsi Sabu Selama Pandemi, Reza Artemevia Terancam 12 Tahun Penjara

Menyelam ke bawah laut bukan lah baru bagi Syahrul. Ia bergabung dalam Komunitas Indonesia Diving Rescue Team (IDRT) dan telah mengantongi sertifikat menyelam dari CSMAS-Possi.

Syahrul kerap ikut serta dalam evakuasi ke bawah laut bersama rekan-rekannya di IDRT yang membantu kerja Badan Sar Nasional (Basarnas). Pekerjaan ini dilakoninya secara sukarela. Tanpa bayaran.

Sebelum terlibat dalam evakuasi penumpang Lion Air JT-610 yang jatuh, Syahrul juga pernah terlibat dalam misi pencarian korban dan bangkai pesawat AirAsia yang jatuh pada 2014 lalu.

Ketika itu, ia menghabiskan 14 hari di atas kapal untuk melakukan evakuasi. Perjuangan itu berbuah manis, saat ia dan rekan-rekannya berhasil membawa 24 kantong jenazah. Tak cuma itu, ia dan rekan-rekannya juga sukses menemukan bangkai pesawat.

Dalam wawancara itu, Syahrul belum mendapat giliran menyelam. Ia hanya mendampingi tim penyelam di KN Sadewa milik Basarnas.

“Kalau pun saya tidak diturunkan, minimal saya bisa berbagi pengalaman yang tempo hari saat turun di Karimata,” imbuh almarhum yang dikenal sering mengenakan kacamata hitam.

Baca Juga :   Ditembak Patuih, Petani di Selayo Solok Ini Tewas, Rekannya Menderita Luka Bakar

Panggilan Hati

Bagi Syahrul, menjadi relawan adalah panggilan hatinya. Bukan untuk mencari kepuasan batin. Toh, kenyataannya, ia tak pernah merasa puas, meski tugasnya telah tuntas.

“Seiring berjalannya usia, rasa kemanusiaan muncul. Ingin ilmu yang saya punya bisa berimbas ke yang lebih luas saja. Tidak untuk diri sendiri,” ujarnya.

Tak cuma menolong dengan penyelaman bawah laut, panggilan hati Syahrul juga sempat membawa kakinya melangkah ke Palu saat gempa mengguncang.

“Sebelum dari sini, dia di Palu. Dia ada dari hari pertama kejadian (gempa Palu),” kata Pemimpin IDRT Bayu Wardoyo di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (3/11).

Syahrul dikenal sebagai seorang yang ramah. Di mata Bayu, Syahrul memang seorang yang suka menolong. Ia tercatat beberapa kali membantu kecelakaan di laut.

Menjadi seorang relawan penyelam adalah panggilan hati Syahrul.

“Dia salah satu orang yang cukup lama. Itu hampir tiga minggu. Dia salah satu orang yang paling banyak ngangkat jenazah malah,” ucapnya mengenang.

Kini, Syahrul tidak bisa lagi memenuhi panggilan hatinya setelah kecelakaan menyelam merenggut nyawanya. Saat itu, ia dalam tugas mengevakuasi penumpang Lion Air JT-610.

Baca Juga :   26 Pemuda Diduga Anggota Gangster Diamankan Polisi

Kecelakaan menyelam terjadi pada Jumat (2/11) sekitar pukul 17.00 WIB. Tim SAR dan pasukan katak yang ada di kapal karet dengan sergap menolong dan melarikan Syahrul ke RSUD Koja.

Namun, nyawa penyelamat itu tak tertolong. Tim dokter yang menangani menyebut Syahrul meninggal dunia pukul 22.30 WIB. Selamat jalan Syahrul! (*)