Ranah Minang Dirundung Duka, 3 Kakak Beradik di Paritmalintang Tewas Tertimbun Longsor

oleh -46 views

PADANG (BM)– Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kawasan di Sumbar beberapa hari terakhir, memicu terjadinya banjir, longsor dan galodo (banjir bandang) di empat kabupaten. Berdasarkan data sementara, musibah ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak enam orang di Padangpariaman dan Tanahdatar.

Tiga korban meninggal berasal dari Padangpariaman, tepatnya di Korong Padangtoboh, Nagari Paritmalintang, Kecamatan Enamlingkung. Korban kakak beradik ini meninggal setelah rumahnya ditimpa longsor. Sedangkan tiga korban meninggal lainnya, dua orang berasal dari Jorong Ranah Batu, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, seorang warga Lubuk Jantan, Tanahdatar.

Ketiga kakak beradik itu masing-masing Arial Nando, 9, Restu Repandi, 4, dan Raka, 5 bulan. Sedangkan kedua orangtuanya Joewisnu, 40, dan Ratna Dewi, 33, beserta mertuanya Rasman, 61, berhasil selamat dari musibah ini. Musibah memilukan itu terjadi sekitar pukul 23.00, Rabu (10/10). Longsor dipicu terbannya bukit di dekat rumah mereka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, sewaktu longsor terjadi Joewisnu sedang berada di tungku pembakaran batu bata di sebelah rumahnya. Sedangkan Ratna bersama tiga putranya dan mertuanya Rasman berada dalam rumah. “Pas kejadian, kepala keluarga (Joewisnu, red) turut tertimpa tanah longsor. Namun, dia berhasil menyelamatkan diri,” ujar Wali Nagari Paritmalintang Syamsuardi saat mengunjungi lokasi kejadian, Kamis (11/10).

Usai menyelamatkan diri, imbuh Syamsuardi, Joewisnu berupaya menyelamatkan keluarganya dibantu warga sekitar. Namun, hanya istri dan mertuanya lah berhasil diselamatkan. Sedangkan ketiga putranya masih tertimbun tanah. “Diduga, anak korban meninggal karena sesak dan lemas tertimpa timbunan tanah. Soalnya ketika kejadian anak-anak korban sedang tertidur,” imbuh Syamsuardi diamini Kapolsek Sicincin Iptu Hepi Kusnadi dan Babinsa Paritmalintang Serma Azwir.

Setelah anak Joewisnu dan Ratna ditemukan, imbuh Syamsuardi, warga dan tim evakuasi terdiri dari BPBD, kepolisian dan TNI, langsung membawa korban ke RSUD Padangpariaman di Nagari Paritmalintang untuk visum. Sedangkan Joewisnu, Ratna dan Rasman, menjalani perawatan medis, karena menderita luka pada tubuhnya. “Setelah divisum, jenazah ketiga putra pasangan Joewisnu dan Ratna langsung dibawa ke rumah keluarganya di Sungaigeringging untuk dimakamkan,” kata Syamsuardi. Sungaigeringging sendiri kampung halaman Joewisnu dan Ratna.

Baca Juga :   PSG "Mengamuk", Bantai Le Havre 9-0

Pasutri ini, menurut Syamsuardi, mendirikan rumah kayu di Korong Padangtoboh tersebut untuk memudahkan usahanya sebagai pembuat batu bata. “Kalau pulang pergi dari Sungaigeringging ke sini, tentu jauh. Makanya, korban memilih membuat rumah di dekat sini untuk kemudahan usahannya,” ujar Syamsuardi.

Buyuang Adiak, 53, salah seorang warga Paritmalintang yang juga memiliki usaha pembuatan batu bata di dekat lokasi longsor itu menjelaskan, bukit yang terletak di depan rumah Joewisnu dan Ratna itu sudah memperlihatkan gejala bakal terban. Terlebih, beberapa minggu belakangan, menyusul musim penghujan. “Bahkan, warga sudah mengingatkan kepada korban bahwa tanah bukit di depan rumahnya itu mulai jatuh-jatuh beberapa waktu lalu,” ujar Buyuang.

Pascalongsor tersebut, warga bersama perangkat Nagari Paritmalintang, kepolisian dan TNI terlihat membersihkan material longsor yang menimbun rumah Joewisnu tersebut. Mereka mencari sejumlah barang dan surat berharga untuk diselamatkan. Selain itu, warga juga mendatangkan ekskavator untuk menyingkirkan tanah longsor yang menimbun jalan di depan rumah keluarga Joewisnu itu.

Galodo di Tanjung Bonai

Galodo (banjir bandang) yang terjadi di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Tanahdatar, terjadi sekitar pukul 18.30, Kamis (11/10). Di samping menelan tiga korban jiwa, galodo ini dua unit rumah warga dilaporkan tertimbun longsor di Tanjuang Bonai, Lintau. Satu unit jembatan juga putus.

“Sampai saat ini, 2 orang korban jiwa dan 4 warga hilang di Nagari Tanjung Bonai, sementara 1 orang juga dinyatakan meninggal  dan merupakan warga Lubuk Jantan,” ucap Kapolres Tanahdatar AKBP Bayuaji Yudha Prajas.

Sampai berita ini diturunkan, hujan masih turun. “Sampai sekarang, anggota masih berupaya menembus lokasi kejadian. Ada yang sudah di TKP, ada yang di posko,” tambah Kapolres. Penangaman dilakukan tim gabungan, pemkab, polisi dan TNI.

Baca Juga :   800 Ribu Anak di Indonesia Belum Diimunisasi

Menurut Kapolres, korban meninggal di Tanjuang Bonai akibat tertimbun dan terjebak di bangunan. “Ada di dua rumah warga, itu tiga orang tertimbun longsor. Dua di antaranya diduga meninggal dunia. Satu orang selamat,” tambah dia. Kedua korban merupakan warga setempat.

Banjir bandang terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Tanahdatar sejak Kamis sore. Sampai tadi malam, tim penyelemat dari BPBD, TNI dan Polri masih berjibaku mengevakuasi korban. Selain mengakibatkan korban jiwa, banjir bandang yang melanda kawasan Lintau 9 Koto tersebut juga membuat 4 orang warga hilang.

Ratusan Rumah Kebanjiran

Di Pasaman, sekitar 600 unit rumah warga dan puluhan lahan pertanian, perikanan terendam banjir akibat hujan selama dua malam berturut-turut mulai dari Selasa (9/10) sampai Rabu malam (10/10). Namun, data pasti belum bisa dipastikan karena dinas terkait masih melakukan pendataan. “Akibat hujan selama dua malam berturut-turut, polongan bendungan air saluran induk irigasi utama Panti-Rao jebol. Sehingga, sekitar 50 hektar lahan pertanian warga digenangi banjir,” kata Unal Bahri, warga Purba Nauli, Nagari Tanjung Betung Utara.

Wali Nagari Langsat Kadap, Antoni S menyebutkan, terdapat beberapa lokasi banjir di Kenagarian Langsat Kadap yang mengakibatkan lahan usaha perekonomian masyarakat merugi. “Sekitar 200 unit rumah warga terendam banjir, yakni perkampungan Tanjungdurian, Kampung Beringin dan Kotopanjang. Secara keseluruhan, rumah yang terendam banjir tersebut bertempat tinggal di tepi Batang Sumpur,” katanya.

Terpisah, Wali Nagari Panti Timur, Asran Irsyah menyebutkan, banjir melanda Jorong Kuamang dan Lundar. “Data sementara, untuk Jorong Lundar sekitar 25 hektare lahan pertanian dan 5 kolam terendam banjir. Untuk Jorong Kuamang hanya 1 kolam beserta 1 unit rumah rusak ringan dan 1 jalan usaha tani rusak parah,” katanya. Dia menyebut, banjir terjadi akibat penyempitan Batang Sumpur Lundar. “Akibat penyempitan itu, aliran sungai berpindah aliran ke lahan pertanian,” tandasnya. Masyarakat berharap, ada penanganan secara cepat atas penyempitan sungai tersebut.

Senada, Wali Nagari Lubuklayang, Ermin mengatakan, delapan kejorongannya terdampak banjir masing-masing Jorong Lubuklayang, Jorong Tanjungberiang, Jorong Padangnuna, Jorong Kubur. Kemudian, Jorong Curanting, Jorong Tanjungair, Jorong Kampungtuen dan Jorong Simpangempat. “Kerugian sementara sekitar Rp2 miliar lebih,” katanya.

Baca Juga :   Empat Tim Melenggang ke Babak 16 Besar Liga Champions 2020

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Pasaman Elvi Wardi menyebutkan, lahan pertanian terendam banjir di Kecamatan Rao Selatan, Panti dan Rao. “Namun, berapa luas lahan pertanian yang terendam banjir, belum diketahui secara pasti,” katanya.

Di sisi lain, Kepala BPBD Pasaman Masfet Kenedi mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan di tujuh kecamatan. “Dalam dua hari ke depan, kita masih melakukan pendataan. Soalnya, masih banyak daerah terdampak banjir yang belum bisa dilewati,” kata Masfet.

Banjir di Pasbar

Di Pasaman Barat (Pasbar), dilaporkan banjir melanda sejumlah daerah. Namun, tak ada korban jiwa dalam musibah ini. “Data awal banjir melanda daerah jalur 1 Jambak, Kecamatan Luhak Nan Duo. Puluhan rumah warga terendam air setinggi satu meter,” kata Kepala BPBD Pasbar Try Wahluyo via selulernya, tadi malam.

Menurut dia, pemicu banjir di daerah Jambak jalur 1 ini akibat meluapnya irigasi Pala Bandar. Sampai tadi malam, petugas di lapangan mengevakuasi warga di daerah Jambak. Selain itu, Simpang Lampu merah Pasaman Baru hingga ke Bundaran, juga banjir.

Lalu, perbatasan antara Nagari Kapa dan Nagari Persiapan Sungai Talang Kecamatan Luhak Nan Duo air Sungau Batang Talang, air juga sudah meluap ke ke pemukiman warga. Informasi di lapangan, puluhan rumah sudah terendam air. Dikhawatirkan, air semakin besar karena hujan sampai pukul 21.00 belum juga berhenti. Dia mengajak masyarakat di titik rawan banjir lebih waspada saat curah hujan tinggi.

Terpisah, Bupati Pasbar Syahiran mengimbau seluruh masyarakat senantiasa bersikap siaga terhadap segala kemungkinan bencana alam yang akan terjadi. Terlebih, bencana tidak dapat dipastikan kapan datangnya. “Semoga warga tetap dalam lindungan Allah SWT,” ujar dia. (*)

 

Sumber: padek.co