Pinyaram, Si Hitam Manis Penggugah Selera

oleh -42 views

SUMATERA BARAT tak hanya dikenal dengan pengusahanya yang ulet, wisata alamnya yang melimpah, pemuka agama yang cerdas, juga dengan kulinernya yang menggiurkan. Tak tanggung-tanggung, salah satu kuliner sumbar yakninya Rendang dinobatkan sebagai makanan terlezat no 1 di dunia.

Namun, kali ini kami akan membahas satu makanan khas Ranahminang yang biasanya wajib ada pada acara-acara adat seperti acara pernikahan (baralek), dan pesta datuak (baralek datuak). Makanan tradisional khas Minang yang menggiurkan lidah itu dinamai Pinyaram.

Dalam acara baralek, pinyaram dimasukkan ke talam dan dibawa ke rumah mertua, ada juga untuk mengisi kampia (tas khas Minang, khusus untuk membawa beras) bagi tamu (perempuan) yang datang, dan pinyaram ini juga disajikan pada saat baralek.

Pinyaram yang dibawa ke rumah mertua memiliki ukuran yang berbeda dengan yang disajikan ketika acara baralek ataupun yang dijual. Biasanya ukuran pinyaram yang dibawa ke rumah mertua lebih besar dengan diameter 15 cm.

Tradisi di sumbar khususnya acara baralek perempuan akan membawa kampia yang berisi beras, nantinya tuan rumah akan mengambil beras tersebut dan menggantinya dengan piyaram yang ukurannya lebih kecil kira-kira berdiameter 6 cm. Pinyaram yang digunakan untuk acara adat ini hanya pinyaram putih bukan yang lainnya. Variasi pinyaram lainnya hanya untuk cemilan saja.

Baca Juga :   Pulau Kasiak, Si mungil Nan Mempesona

Pinyaram yang disajikan saat baralek dihidangkan setelah makan dengan menggunakan piring kecil dan diisi tiga tiga. Dulu pinyaram dibuat oleh keluarga wanita yang menikah. Saat ini, karena kesibukan sehari-hari dan tidak semua orang dapat membuat pinyaram.

Jadi, solusinya kebanyakan keluarga wanita membeli pinyaram. Karena pembuatan pinyaram yang harus satu satu maka waktu yang dibutuhkan cukup lama. Bila ingin memesan untuk baralek pembeli harus memesan setidaknya dua hari sebelum acara. Jangan hawatir, pinyaram tidak mudah basi bisa tahan sampai seminggu.

Untuk rasanya gurih dan manis. Keistimewaan makanan ini tidak lain adalah cara memasaknya yang tradisional. Pinyaram dibuat dengan bahan dasar tepung beras, gula, vanili, garam dan santan.

Cara memasaknya layaknya seperti telur ceplok, digoreng dalam waktu yang ditentukan. Bentuknya bulat, ada dua tekstur yang membuat pinyaram ini berbeda dengan kebanyakan makanan di Indonesia. Di tepi-tepi terasa krenyes dan di tengah-tengah lembut serta manis.

Pinyaram akan terasa makin nikmat jika proses pembuatannya dilakukan secara tradisional tepung yang digunakan hendaknya dari beras yang ditumbuk sendiri menggunakan penggilingan tradisional.

Baca Juga :   Pantai Tangsi, Surga Berpantai Pink di Pesisir Lombok

Sebenarnya pinyaram kini sudah berkembang pula rasanya bila dahulu original saja yang mana hanya berwarna coklat tepinya dan putih tengahnya, kini sudah ada varian rasanya. Pinyaram hitam, terbuat dari tepung beras dicampur tepung ketan hitam, pinyaram hijau terbuat dari tepung beras biasa ditambah pasta pandan.

Cara pembuatannya pun tidak terlalu sulit cukup sediakan gula pasir atau gula aren kemudian masak sampai cair, lalu disediakan tepung beras diaduk diberi garam secukupnya. Kalau sudah bercampur semuanya maka didiamkan satu malam dulu, bila masih kental ditambah air secukupnya, esoknya baru digoreng.

Biasanya untuk satu pinyaram digoreng dengan ukuran satu sendok hingga matang, lalu diangkat dan ditiriskan agar minyak goreng turun dari pinyaram tersebut. Bila sudah selesai pinyaram dapat disajikan.

Bila tidak yakin untuk membuat sendiri makanan ini tidak tersedia di sembarang tempat. Bahkan di pasar-pasar tradisional pun sedikit sekali yang menjualnya. Jangan khawatir, bila ke Sumbar Pinyaram ini bisa dijumpai dalam jumlah banyak di Daerah Kayu Tanam, jalan menuju Padang Panjang.***