Pencuri Sikat Alat Sensor Pendeteksi Gempa di Bengkulu

oleh -67 views

Kabarsiana.com, CURUP – Sensor pendeteksi gempa bumi milik Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, yang dipasang di gedung sensor Desa Taba Renah, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, hilang diembat pencuri.

Sensor pendeteksi gempa itu hilang satu perangkat. Mulai dari 1 set parabola, 1 unit regulator, 1 buah sensor dan 1 set sistem penangkal petir. Akibatnya, Stasiun Geofisika Kelas III, Kepahiang, BMKG Bengkulu mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp159 juta.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, Litman mengatakan, alat sensor pendeteksi gempa dan seluruh perangkat pendukung diduga dicuri. Di mana kejadian tersebut diketahui pada Kamis 12 November 2020.

Saat itu, kata Litman, salah satu petugas Stasiun Geofisika Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, hendak mengecat gedung sensor guna pemeliharaan. Namun, ketika dicek alat sensos dan pendukungnya sudah tidak ada di dalam gedung.

”Alat kita yang di Curup (Taba Renah) hilang, diduga dicuri. Sehingga kita tidak mendapatkan rekaman dari sensor terdekat dalam pendeteksi gempa. Kejadian ini sudah kita laporkan ke pihak berwajib,” kata Litman.

Baca Juga :   Kemenperin Targetkan 2.000 Pelaku Industri Kreatif Baru di 2020

Rejang Lebong Diguncang 13 Gempa

Sejak Rabu 16 Desember 2020, pukul 23.19 WIB hingga Kamis, 17 Desember 2020, pukul 14.07 WIB, di Kabupaten Rejang Lebong, diguncang 13 kali gempa dengan Magnitudo (M=) 2,8 hingga M=4,2.

Di mana gempa ke 13 terjadi pada pukul 14.07 WIB, hari ini. Di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, berkekuatan M=3.0. Di mana episenter gempa itu terletak pada koordinat 3.41 Lintang Selatan dan 102.57 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di Darat berjarak 8 Kilometer (Km) Timur Laut, Kabupaten Rejang Lebong, pada kedalaman 3 Km.

”Dari 13 gempa itu 6 diantaranya dirasakan masyarakat setempat,” jelas Litman.

Dilihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, lanjut Litman, gempa di Kabupaten Rejang Lebong merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Ketahun. Gempa itu, kata Litman, dirasakan masyarakat setempat dengan skala intensitas II MMI.

Litman mengimbau, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

”Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa tersebut,” jelas Litman.

Baca Juga :   Kabareskrim Tegaskan Tidak Ada Uang Korupsi Impor Daging ke Jenderal Tito

Bentuk Tim Siaga Bencana

Daerah Pantai Barat Provinsi Bengkulu, memiliki risiko bencana alam gempa bumi disusul dengan gelombang tsunami cukup tinggi. Di mana wilayah ini berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust di Samudera Hindia.

Sebagai langkah antisipasi dan mitigsi bencana, kata Litman, BMKG selalu memberikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang cepat dan akurat.

Di mana peringatan dini tsunami yang disebarluaskan BMKG, terang Litman, akan diterima oleh pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat melalui beragam moda diseminasi. Mulai dari Warning Receiver System (WRS), aplikasi android WRS mobile dan Info BMKG, SMS, Email, Fax, Website, dan media Sosial.

Hal tersebut, sampai Litman, dalam rangka upaya mitigasi bencana tsunami yang bertujuan untuk memperkecil risiko bencana yang mungkin terjadi.

”Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami dari BMKG, pemasangan sirene tsunami, penyiapan jalur dan rambu evakuasi, serta membangun tempat evakuasi sementara,” sampai Litman.

Selain itu, sambung Litman, akan dibentuknya Tim Siaga Bencana di Kelurahan Penurunan, Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu, dengan melibatkan masyarakat yang mampu dan aktif sebagai pengerak dalam penanggulangan bencana tsunami. (*/kha)