Pencopotan Kapolda Sumbar Dinilai Bermuatan Politis

oleh -185 views
YANDRIVO, ST

PADANG, Kabarsiana– Mutasi Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal ke Mabes Polri yang seolah mendadak, sontak mengagetkan masyarakat Sumatra Barat, terkhusus para simpatisan dan relawan pendukung sosok yang digadang-gadang akan maju Pilgub Sumbar 2020 mendatang itu.

Meski pihak Polri beralasan mutasi di tubuh Polri adalah hal biasa dan lumrah, namun ciloteh dan ragam tanggapan publik, juga berkembang liar dalam merespon fenomena itu. Tak satu dua yang beranggapan, jika pencopotan Fakhrizal yang menjabat Kapolda Sumbar sejak 2016 lalu itu, sarat dengan muatan politis.

Apakah mutasi itu terkait kehendak rakyat Sumbar yang menginginkan Fakhrizal menjadi Gubernur Sumbar periode lima tahun yang akan datang?

“Ya, bisa-bisa saja. Apalagi momennya bertetapan dengan dimulainya tahapan Pilkada serentak 2020. Semua orang tahu, Fakhrizal didukung dan didorong rakyat Sumbar untuk maju,” kata Ketua Umum Gerakan Relawan Fakhrizal (GREF) Sumbar, Yandrivo, ST, Minggu (8/12).

Analisa itu tegasnya, bukan tidak beralasan. Karena memang, pergantian Kapolda Sumbar bukanlah serta merta. Berbagai dinamika politik, terus bergulir sejak nama Fakhrizal digadang-gadang akan maju pada Pilgub Sumbar melalui jalur independen. Bahkan, barisan relawan, juga makin tumbuh subur memberikan dukungan.

Baca Juga :   Kalah 3-4, Persebaya Tuai Malu di Kandang

“Kondisi ini, tentu membuat pihak lawan menjadi tidak nyaman. Lihat saja polemik saat di RDP Kapolri dengan Komisi III DPR RI, yang jelas-jelas menyasar Kapolda Sumbar. Kalau tak ada api, tentu tak akan ada asap. Bahan ini pasti titipan seseorang,” ujar Yandrivo didampingi Ketua Harian GREF, Adidayondra.

Beberapa waktu lalu imbuhnya, politisi Gerindra Andre Rosiade, juga sempat menyerang Fakhrizal dengan baliho Kapolda Sumbar yang tersebar di hampir seluruh wilayah di Sumbar. Padahal baliho tersebut jelas berisikan imbauan kamtibmas dan ajakan tertib berlalu lintas. Sama sekali tak ada embel-embel politik.

“Ada konspirasi elit politik yang ingin menghabisi harumnya nama Pak Fakhrizal sebagai Kapolda terlama di Sumbar. Saya yakin, pergantian mendadak ini, apalagi ada bau-bau politiknya, justru akan semakin menggairah publik untuk mendukung Fakhrizal jadi Gubernur Sumbar,” ujar tokoh muda Kota Padang, Novrianto, Sabtu (7/12) di Padang.

Ketua DPW Muhammadyah Sumbar Shofwan Karim, juga mengungkapkan keterkagetannya atas mutasi itu. Shofwan berharap agar Fakhrizal mengambil keputusan pensiun dini sehingga bisa leluasa bersilaturahmi dengan masyarakat Sumbar. Shofwan mengaku akan mendukung penuh jika Fakhrizal menetap di Sumbar dan meneruskan pencalonannya.

Baca Juga :   BPJS Tak Tanggung Pasien Positif Corona

“Sosok seperti Fakhrizal itu sangat khas. Masyarakat ranah minang sangat membutuhkan. Wajar beliau dapat gelar Kapolda Ninik Mamak. Karena itu harus penisun dini dan memperkuat persiapan menjadi Gubernur Sumbar,” kata Shofwan Karim.

“Kita tidak tahu persis, bisa jadi ditariknya Fakhrizal ke Mabes Polri, juga semacam bentuk dukungan Kapolri padanya. Mengingat selama menjabat sebagai Kapolda, begitu gencar sorotan padanya, sehingga ruang gerak untuk bersosialisasi dan besilaturahmi dengan masyarakat luas jadi terbatas.

Walaupun, turun ke lapangan masih terkait dengan tupoksinya sebagai Kapolda, namun tetap saja ada nada-nada miring. Apalagi beliau berniat maju sebagai calon independen,” ungkap Shofwan.

PencopotanFakhrizal, juga ditenggarai muncul setelah adanya serangan dari Politikus PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu, anggota Komisi III DPR RI. Saat RDP dengan Kapolri, Rabu (20/11), Masinton Pasaribu menuding Fakhrizal telah mendeklarasikan diri untuk maju pada Pemilihan Gubernur Sumatera Barat periode 2020-2025.

“Laporan di salah satu provinsi, Sumatera Barat, itu Kapolda sudah deklarasi. Terhadap Kapolda dan Kapolres menjaga netralitas Polri, yang sudah deklarasi bisa diberhentikan dari jabatan, agar tak ada konflik interest,” ujarnya kala itu.

Baca Juga :   Dua Pasangan Bacalon Walikota Bukittinggi dari Jalur Independen akan Gugat KPU Bukittinggi

Isu deklarasi ini sebenarnya sudah dibantah Fakhrizal, karena dirinya masih berseragam Polri. “Saya masih prajurit Bhayangkara yang patuh terhadap institusi saya,” ujar Fakhrizal di suatu kesempatan.

Fakhrizal memang sontak menjadi populer, karena banyaknya warga Sumbar yang antusias mendukung Kapolda Ninik Mamak itu maju di Pilgub Sumbar 2020. Dukungan itu pulalah yang akhirnya melahirkan banyak relawan dan tersebarnya baliho-baliho dari para relawan. (**)