Okupansi RS di DKI, Jabar & Jateng Tembus 70%

oleh -25 views

Kabarsiana.com, JAKARTA – Peningkatan kasus positif pada beberapa waktu belakangan diiringi dengan tingginya tingkat keterisian rumah sakit di berbagai daerah. Bahkan beberapa provinsi yang paling terdampak Covid-19 saat ini tingkat keterisian tempat tidur sudah mencapai di atas 70%, padahal idealnya Bed Occupancy Ratio (BOR) berada di bawah angka tersebut untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

“Kapasitas tempat tidur ini akan berpengaruh pada kapasitas menampung pasien. Kami sangat alert dari Satgas dan koordinasi daerah maksimal kami harap BOR dibawah 70%, karena kalau ada lonjakan kasus dan kapasitas tempat cukup akan berpengaruh pada fatalitas dan angka kematian,” kata Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah, Rabu (16/12).

Dewi menjabarkan saat ini tingkat keterisian tempat tidur di Jakarta meningkat dari 60% saat libur panjang, menjadi 73% per 14 Desember 2020, atau terjadi kenaikan 13% setelah libur panjang. Kemudian Jawa Barat, tingkat keterisiannya naik 20% setelah libur panjang, dari 55% menajdi 75%. Jawa Tengah sempat mengalami fluktuasi setelah libur panjang, dan saat ini di posisi 77%.

Baca Juga :   M Syarifuddin Terpilih sebagai Ketua MA 2020-2025

Sementara Jawa Timur menjadi provinsi yang naik tajam menjadi 63% , atau naik 24% paling tinggi dibandingkan yang lainnya.

“Karena di Jawa ada kenaikan mobilitas yang tinggi, dan DKI Jakarta bisa jadi tempat keluarnya orang berpindah dan daerah tujuannya paling tinggi Jawa Barat dan Jawa Tengah, tapi setelah balik lagi ke Jakarta ada klaster keluarga di Jakarta,” katanya.

Dewi pun mengingatkan masyarakat pada risiko liburan di masa pandemi. Apalagi sebentar lagi akan ada perayaan tahun baru dan natal yang biasanya dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga besar. Menurutnya Satgas menyarankan untuk tidak berkerumun meski di ruang terbuka, dan mewaspadai kunjungan ke keluarga yang lansia.

Selain itu peningkatan mobilitas masyarakat di masa libur panjang meningkat risiko penularan. Semakin tinggi mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, dan bergerak di saat yang bersamaan maka akan terjadi potensi kerumunan.

“Kemudian harus dilihat apakah protokol kesehatan 3m ini diterapkan atau tidak, ada kondisi yag sulit dijalani ketika kerumunan semakin banyak. Ketidakpatuhan 3M akan meningkatkan penularan. Kalau libur dirumah aja ga masalah tetapi jika ada mobilitas dan kerumunan ada ketidakpatuhan maka muncul penularan,” ujarnya. (*/dob)

Baca Juga :   Mahasiswi asal Mamasa Jalani Isolasi di Gubuk Sawah