Menulis Tentang Yusri Latif, Menulis Tentang Kesahajaan (1)

oleh -66 views
Yusri Latif bersama istri dan dua orang buah hatinya dalam sebuah kesempatan.

Catatan: RYAN SYAIR

 

AWAL pertemuan saya dengan Yusri Latif, tidak terlalu lama. Saya berkenalan dengannya, saat kami (saya dan salah seorang rekan, Uud) mendatangi tempat usahanya di bilangan Jl. M Hatta, Pasar Baru Pauh, Kota Padang, di salah satu malam Ramadan 2016 silam. Saat itu, kami pemuda Komplek Rindang Alam yang tergabung dalam organisasi Rang Mudo Rindang Alam (RAMURA), bermaksud hendak menyewa salah satu bus miliknya.

Jujur saja, pertemuan singkat dengannya malam itu, terasa berkesan dan sebenar membekas di hati saya. Terkesan dengan tutur ramah, santun dan kesahajaannya.

“Jan ba-Uda pulo ka Awak lai, Da. Awak ketek baru nyo. Panggia Latif sajo lah, Da,” ucapnya ramah, begitu menjabat hangat tangan saya saat memperkenalkan diri. Seulas senyum keakraban, spontan menghiasi sudut bibirnya.

Ya, mulanya, saya memang sempat terkicuh dengan postur dan perawakannya yang tinggi besar, bergerembas pula. Semakin menyempurnakan kewibawaannya tadi itu. Kewibawaan yang memang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dari usianya.

“Untuak apo (bus) rencana, Da, kalau buliah tau,” tanyanya kepada saya.

“Begini Latif, kami dari RAMURA, setiap tahun rutin mengundang anak yatim dan panti asuhan untuk berbuka puasa bersama. Kadang, kami yang menyambangi mereka. Namun tahun ini, kami berencana membawa mereka datang ke Rindang Alam. Jadi kami butuh armada untuk penjemputan mereka ke panti asuhan di kawasan Purus,” ujar saya.

Baca Juga :   Seksolog Dr Naek L Tobing Meninggal Dunia

“Oh. Bagus mah, Da. Salut dan sangat mengapresiasi Awak untuk kegiatan-kegiatan anak mudo takah iko mah, Da,” sambutnya.

Diselingi gurau ringan dan canda tawa dalam seduhan kopi yang disuguhkannya, cukup lama juga kami terlibat dalam diskusi menyoal giat rutin RAMURA bertajuk “Malam Amal” itu. Dari beberapa pertanyaan yang mewakili rasa keingintahuannya, tampak sekali dia sangat merespon kegiatan kami. Sesekali, Latif terlihat senyum-senyum kecil sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi, kira-kira berapa uang sikola busnya itu, Latif. Hari dek lah malam pula,” ujar saya, yang entah kenapa, seperti merasa sudah sangat akrab saja dengannya.

“Takah nan alah Awak sampaikan tadi, Da. Awak salut jo kawan-kawan generasi mudo nan punyo inisiatif untuk kegiatan-kegiatan takah iko. Sebagai bagian dari kaum mudo, Awak sangaik mandukuang Uda dan kawan-kawan di RAMURA. Jadi, untuak biaya, ndak usah lah Uda pikia kan, Uda tantukan sajolah harinyo. Anggap sajo iko salam perkenalan dari Awak ka kawan-kawan dan adiak-adiak di RAMURA,” ucapnya datar, tulus sekali.

Bukan karena ada penampakan. Tapi entah kenapa, bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri dibuatnya. Ya, spontan saja saya bergidik begitu mendengar penuturannya itu. Belum lagi habis rasa takjub dan ketersimaan saya, Latif kembali berkata, “Sekalian numpang beramal pulo Awak mah, Da. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan kito basamo,”.

“Luar biasa orang ini. Baik dan bersih sekali hatinya,” gumam saya dalam hati, sembari menyimpan rasa kagum yang teramat sangat pada sosok anak muda, yang padahal baru beberapa menit lalu saya mengenalnya.

Baca Juga :   Komit Bangun Ekonomi Umat, Yusri Latif: Alhamdulillah, Kelompok Binaan Cantigi Institute Mulai Berproduksi

Setelah sempat berbasa-basi dan mengucapkan banyak terima kasih atas jamuan, plus kemurahan hatinya, kami memutuskan untuk pamit. Karena memang, waktu saat itu memang sudah terbilang larut.

“Acok-acok juolah singgah ka mari, Da. Ngopi-ngopi Wak, sambia bacarito lamak,” pesan terakhirnya, ketika kami sudah berada di atas sepeda motor.

“Siap, Latif,” jawab saya, yang berlalu meninggalkannya.

Sepanjang perjalanan, di atas sepeda motor yang saya tunggangi, kami tak banyak berbicara. Rasa kagum dan penasaran untuk mengenal lebih jauh sosok Latif, benar-benar beraduk dalam benak saya. Kekaguman itulah yang sepertinya membuat saya menjadi sulit untuk berkata-kata, apalagi mengira-ngira. Naluri saya sebagai seorang jurnalis, serta merta terpancing dibuatnya.

“Sebenar-benar langka, teramat sulit mencari manusia takah ini di zaman sekarang. Untuk beramal, dia lupakan bisnisnya. Oto (bus) gadang pula nan diagihnya,” tak henti-henti saya bergumam, tanpa suara.

Namun akhirnya, dari Uud-lah saya sedikit-sedikit mulai mengetahui, bahwa sosok muda yang menjadi lawan bicara kami barusan, ternyata merupakan pemilik dari usaha tour travel dan pusat penyewaan bus pariwisata, yang memang tergolong besar dan sudah cukup bernama di Kota Padang. Ya, dia, Yusri Latif, jebolan Fakultas Hukum Islam IAIN Imam Bonjol Padang itu, ternyata seorang juragan. Juragan muda yang rendah hati, pengusaha yang sudah mendulang sukses di usia mudanya.

Baca Juga :   1 Januari 1947, Perang 5 Hari di Palembang

“Mudah-mudahan semakin sukses jugalah dia. Dilapangkan terus jalan rezekinya oleh Allah SWT,” ujar saya spontan, yang secara spontan pula diaminkan Uud, yang sedari tadi duduk hening membonceng di belakang saya.

Dan entah kenapa, setelah tiga tahun berselang, persisnya malam ini, Jumat 28 Maret 2019, tetiba saya mendapat dorongan kuat untuk menulis tentang sosok Yusri Latif. Menulis tentang sepenggal kisah, dimulai dari awal perkenalan kami (seperti yang sudah saya runutkan di atas), hingga sampai pada saat ini, dimana hubungan kami sudah seperti kakak beradik. Entah dorongan darimana, tak dapat pula saya menjawabnya. Hanya Tuhan yang tahu. Wallahu A’lam.

Namun demikian, sebagai seorang penulis –jika saya boleh menyebut diri saya demikian, he he he-, saya melihat anak muda kelahiran 15 September 1986 ini sebagai sosok millenial yang sarat dengan jejak-jejak makna. Ketertarikan saya untuk “mengulitinya” dalam tulisan ini, juga berangkat dari naluri kewartawanan saya, yang secara tak sengaja, tiga tahun yang lalu, memang telah terpancing olehnya.

Yang pasti, bagi saya pribadi, menulis tentang Yusri Latif, adalah menulis tentang sosok anak muda di atas rata-rata, tentang kisah-kisah inspiratif sarat perjuangan yang telah dilaluinya. Menulis tentang Yusri Latif, adalah menulis tentang santun dan kesederhanaan, tentang kesahajaan. (bersambung)