Media dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Representasi Perempuan Minang 

oleh -45 views
Ilustrasi perempuan Minang.

Oleh: ONGKY ANDRIAWAN

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAND

 

MEDIA merupakan saluran untuk menyampaikan sebuah informasi. Media sangat beragam mulai dari media cetak, media elektronik sampai kepada media baru seperti sekarang yang berbasis jaringan internet seperti facebook, twitter, instagram, whatsup, line dan lain sebagainya yang keseluruhan fungsinya sama yaitu sebagai saluran menyampaikan informasi berupa verbal ataupun visual. Saat ini telah banyak media yang dapat diakses oleh masyarakat. Media media tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam bahasan medium is the messege membahas bahwa media adalah pesan itu sendiri dan setiap media memiliki karakteristik dan pesannya masing-masing.

Selanjutnya mari karakterisasi media dan pengaruhnya bagi masyarakat dengan identitas budaya tertentu dan perubahan yang bisa terjadi dari proses tersebut. kita sama sama sudah mengetahui media dengan segala keluasannya dapat menjamin interaksi manusia menjadi jauh lebih luas melewati batas ruang dan waktu apalagi ketika masuk pada era media baru yang berbasis jaringan internet yang memungkinkan hampir seluruh manusia dimuka bumi ini dapat menjalin komunikasi dan bertukar informasi didalamnya.

Hal ini menjadi menarik karena proses pertukaran pesan dan ineraksi yang terjadi melaui media tanpa disadari memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap identitas budaya yang dipunyai oleh suatu kelompok masyarakat, dalam hal ini saya berbicara tentang representasi wanita minang sebagai bundo kanduang rumah kadang.

Baca Juga :   Irjend Pol Listyo Sigit, Kabareskrim yang Baru

Peranan wanita di minang adalah sebagai bundo kanduang. Masyarakat minang percaya bahwasanya perempuan memiliki standar perilaku dan peranan tertentu ditengah masyarakat yaitu sebagai bundo kandung yang berperan besar dalam mengurusi rumah tangga, pendidikan dan memberikan afeksi yang cukup pada anak dan mengajarkan mereka banyak hal.

Sesuai transcript “ Pituah ayah untuak anak padusi” disampaikan banyak sekali pituah atau nasihat untuk kaum perempuan minang. Beberapa dari pituah tersebut adalah mengingatkan kaum perempuan untuk tidak pulang larut malam, berlaku sopan menundukkan pandangan dan menutup aurat dengan sopan dan berbicara lemah lembut.

Budaya seperti ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat itu sendiri. Hal ini dianggap benar karena masyarakat minang percaya akan adanya pembagian tugas di dalam rumah tangga, sekaligus pembagian peran yang juga berbeda, dimana laki-laki mencari nafkah keluar sementara bundo kanduang tetap dirumah dan mengurusi keturunannya.

Lebih dari itu sebenarnya peran dan representasi perempuan di ranah minang tidak hanya sebatas mengurusi dan berdiam diri dirumah, namun juga merupakan salah satu strategi dan kepercayaan masyarakat minang untuk menjaga dan mengangkat martabat kaum perempuan sebagai sosok yang paling penting dari perkembangan sebuah peradaban.

Karena bundo kanduang lah yang akan mendidik dan mengarahkan generasi muda minang agar menjadi pribadi yang santun dan bermoral. Begitu minang mengagungkan dan menggambarkan seorang perempuan. Namun pada kenyataannya saat sekarang ini banyak hal yang berubah berkaitan dengan representasi perempuan di ranah minang.

Baca Juga :   10 Daerah di Aceh Terendam Banjir Akibat Cuaca Buruk Selama Sepekan

Pada pembahasan awal kita membahas tantang pengaruh pemaparan informasi yang beragam dari segala penjuru dan segala ideology yang mengikutinya terhadap representasi perempuan di ranah minang.

Selanjutnya mari kita analisa kaitan antara media dengan representasi perempuan saat ini diranah minang. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwasanya perempuan minang telah terpapar arus globalisasi dan informasi yang begitu deras dalam jangka waktu yang sudah sangat lama.

Media dengan segala konten didalamnya mempengaruhi pandangan perempuan minang terhadap realitas dan kepercayaannya terutama terhadap cara ia memandang dirinya sendiri sebagai bagian dari budaya minangkabau.

Media elektronik menyediakan berbagai konten pemberitaan dan hiburan yang berupa sinetron, film, iklan, dan lain sebagainya. Dalam film dan iklan tersebut sebenarnya terselip pesan pemilik kepentingan sehingga berpengaruh terhadap representasi gender perempuan minang saat ini.

Sebagai contoh: penayangan film luar negeri di indonesia dengan gaya hidup yang mewah, bebas, pesta, berpakaian terbuka dan tidak mengenal batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dan banyak lagi budaya lain yang tidak sesuai dengan kepercayaan perempuan minnag.

Representasi perempuan di luar negeri ternyata tidak sama dengan bagaimana perempuan minang merepresentarikan dirinya. Pemaparan dari media ini menjadikan pesan tersebut ditangkap oleh perempuan minang. Saat itu interaksi budayapun terjadi, pesan pesan budaya luar terus-terusan dipaparkan dikalangan masyarakat minang yang pada akhirnya terasa biasa dan menjadi sesuatu yang benar untuk dilakukan.

Baca Juga :   Jawa Tengah Provinsi Pendorong KUR Terbaik

Penjelasan ini sesuai dengan pembahasan Missing link dimana pada pembahasan tersebut penulis mengatakan bahwa orang-orang hanya fokus kepada pesan yang disampaikan tanpa sadar akan dampak dari pesan yang ia terima.

Karena dipaparkan terus menerus pada kalangan perempuan minang, maka perempuan minagkabau akan melihat pesan budaya dan bagaimana perempuan di negara lain merepresentasikan dirinya sebagai sesuatu yang biasa dan benar untuk dilakukan sehingga perlahan realitas yang dilihat oleh perempuan minang akan berubah seiring dengan perubahan pandangan yang disebkan oleh pengaruh media.

Selanjutnya pembahasan ini juga didukung oleh teori jarum hypodermic yang berasumsi bahwa orang-orang tidak bisa menolak pengaruh media. Dan dalam satu sisi ternyata benar bahwa kebanyakan perempuan minang terpengaruh oleh paparan media dan melupakan kedudukan dan representasinya sebagai perempuan minang yang dijunjung oleh adat dan kebudayaannya.

Kenyataan yang terjadi adalah perempuan minang saat ini malah banyak melupakan Pituah atau pesan dari orang tua mereka yang berkaitan dengan anak perempuan. (*)