Lutung Jenis Baru Ditemukan di Gunung Berapi

oleh -26 views

SEBUAH studi baru yang diterbitkan jurnal Zoological Research mengungkap penemuan spesies primata baru di Myanmar. Hal ini diketahui setelah menganalisis DNA mitokondria dari genus colobine Asia Trachypithecus.

Penemuan spesies hantu yang diberi nama Lutung Popa (Trachypithecus Popa) itu bertumpu pada spesimen berusia 100 tahun dari Natural History Museum (NHM) di London, Inggris.

Nama Lutung Popa diambil dari nama Gunung Popa yang sakral. Ini merupakan gunung berapi yang sudah punah dan situs ziarah suci yang menjadi rumah bagi sekira 100 lutung, menjadikannya yang terbesar dari empat populasi.

Di seluruh Myanmar, lutung ini terancam kehilangan habitat akibat banyaknya perburuan. Menurut peneliti, spesies tersebut diklasifikasikan sebagai hewan terancam punah.

Banyak penelitian telah dilakukan mengenai 20 spesies yang diketahui, meski demikian, sejarah evolusi mereka masih menjadi misteri. Dengan dilakukannya pendalaman pemahaman tentang sejarah evolusi kelompok primata ikonik inilah spesies baru ditemukan.

Perbedaan antara spesies Trachypithecus tidak diketahui secara jelas. Sebagian besar berkaitan dengan warna bulu, panjang ekor, ukuran geraham, dan bentuk tengkorak. Tetapi analisis genetik dari spesimen antik NHM bersama sampel dari museum lain dan hewan yang masih ada membuktikan keberadaan spesies baru tersebut.

Baca Juga :   PSBB di DKI Jakarta Berlaku Mulai Jumat, 10 April

“Kami menganalisis 72 urutan primata dan 53 di antaranya berasal dari genus Trachypithecus tempat spesies baru ini berasal,” kata Roberto Portela Miguez, kurator senior yang bertanggung jawab atas mamalia di NHM, seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (12/11).

Spesimen Trachypithecus Popa yang terkenal dikumpulkan pada tahun 1913 oleh Guy C Shortridge, seorang ahli zoologi Inggris yang mendata ribuan spesimen selama awal abad ke-20.

Jadi, sungguh luar biasa untuk berpikir bahwa Lutung Popa ini memungkinkan ilmuwan modern menemukan keberadaan taksonominya lebih dari 100 tahun kemudian.
(*/han)