Kasus Mutasi Corona pada Peternakan Cerpelai Ditemukan di 6 Negara

oleh -20 views

Kabarsiana.com, WASHINGTON – Organisasi kesehatan dunia, WHO, melaporkan temuan kasus mutasi virus corona pada peternakan cerpelai di enam negara, yakni Denmark, Amerika Serikat, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia.

Pada kasus Denmark, virus corona yang bermutasi ini menyebar ke manusia. Infeksinya pun seperti SARS-Cov-2 yang saat ini menjadi pandemi.

“Pengamatan awal menunjukkan bahwa gambaran klinis, tingkat keparahan dan penularan di antara mereka yang terinfeksi serupa dengan virus SARS-CoV-2 yang beredar,” ungkap WHO dalam pernyataan resminya pada Jumat (6/11), dikutip dari AFP.

WHO mengingatkan kondisi ini sebagai mutasi virus yang belum diamati sebelumnya. Otoritas Denmark telah menyebut varian kasus corona pada cerpelai sebagai “Cluster 5”.

“Varian ini, varian ‘Cluster 5’, memiliki kombinasi mutasi, atau perubahan yang belum pernah diamati sebelumnya. Implikasi dari perubahan yang teridentifikasi pada varian ini belum dipahami dengan baik,” jelas WHO.

Pada temuan awal, WHO mengindikasikan varian pada cerpelai ini “cukup menurunkan sensitivitas terhadap antibodi penawar”.

WHO menyerukan studi lebih lanjut untuk memverifikasi temuan awal kasus corona di cerpelai, sehingga dapat segera diketahui diagnostik, penanganan medis, hingga dampak pada pengembangan vaksin saat ini.

Baca Juga :   PBB Dilarang Gunakan Bandara Tripoli

“Meskipun virus (corona) diyakini terkait dengan kelelawar, (namun) asal dan inang perantara SARS-CoV-2 belum diidentifikasi,” kata WHO.

Denmark telah memberlakukan tindakan ketat di bagian utara negara itu setelah memperingatkan bahwa mutasi corona telah melompat dari cerpelai ke manusia dan menginfeksi 12 orang. Sebagai tindak lanjut, otoritas setempat memusnahkan sekitar 15-17 juta cerpelai.

Sementara, Inggris pada Sabtu (7/11) mulai melarang masuk semua warga asing non-residen yang datang dari Denmark setelah mutasi corona dari cerpelai.

Para ilmuwan mengatakan, mutasi virus sebenarnya adalah hal yang umum dan seringkali tidak berbahaya maupun tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah pada manusia.

Namun otoritas kesehatan Denmark menyatakan bahwa jenis ini, yang dikenal sebagai ‘Cluster 5’, tak mampu dibendung oleh antibodi pada tingkat yang sama seperti virus normal, yang mereka khawatirkan dapat mengancam efektivitas vaksin yang sedang dikembangkan di seluruh dunia.

Cerpelai adalah hewan dari anggota keluarga mustelid atau masih satu keluarga dengan musang dan berang-berang. Di Eropa, Cerpelai biasa diternakkan untuk diambil bulunya.

Baca Juga :   Pekan Film Indonesia Hangatkan Belanda

Fisik cerpelai memang sangat menggemaskan, namun di alam liar hewan ini adalah pemangsa berbahaya.

Cerpelai memang lihai dalam berburu mangsa, karena mengandalkan penglihatan tajam dan penciuman yang kuat. Mangsa utamanya adalah tikus, burung, kelinci, dan serangga. Selain itu, santapan tambahan dapat berupa kadal, lobster, landak, dan ikan.(*/kpr)