Inilah Tiga Spirit Hidup Yudi Edmund, Ketua KTPI Sumbar

oleh -60 views
Yudi Edmund

SEMANGAT jujur dan transparan yang di­imple­mentasikan de­ngan mengedepankan jiwa sportifitas, me­rupakan prinsip dan motifasi hidup seorang Yudi Edmund, SH. M.Hum.

Tiga spirit itu, seperti be­nar-benar telah melekat dan tak bisa dipisahkan dari kese­harian pria murah senyum ini.

Yudi yang mengawali karir PNS-nya pada tahun 1988 itu, memang menjadikan semangat jujur sebagai landasan berfikir sebelum bertindak dan me­ngambil keputusan, terutama dalam kodratnya sebagai ma­khluk Tuhan yang beriman dan bertaqwa. Terpenting juga bagi Yudi, adalah selalu berpositif thinking dalam segala hal.

Pembukaan tinju profesional Telkom Cup di Padang 2015 lalu.

 

Bagi suami tercinta Indria Sari yang lahir pada 27 April 1969 ini, semangat jujur meru­pakan mata rantai untuk me­lahirkan berbagai tindakan positif dalam menjalani hidup.

Transparansi dan keterbukaan diri dalam menghadapi setiap persoalan, juga menjadi bagian terpenting dalam membangun dan melahirkan jiwa sportif dan ksatria, yang selalu dijadikannya sebagai motifasi hidup menuju kesuksesan. Sukses dunia, sukses akhirat.

“Dengan modal semangat jujur dan transparan, proses pembangunan jiwa yang spor­tif, akan dengan mudah ter­bentuk. Jika ketiganya sudah menjadi satu ikatan yang ber­jalan selaras, hidup akan terasa sangat indah untuk dijalani,” kata mantan petinju yang kini juga menjabat Ketua KTPI Sumbar dan Promotor Tinju Lisensi “A” Internasional itu.

Baca Juga :   Ketua TP PKK Siak Tinjau Peternakan Burung Puyuh di Bungaraya.
Bersama Dandim 0308 Pariaman, Kasdim serta panitia tinju Pantai Pariaman 2017 lalu.

Jujur, transparan dan spor­tif imbuh Yudi, adalah tiga hal yang menjadi spirit hidup yang selalu menjadi pegangannya da­lam setiap kesempatan. Ti­dak hanya di lingkungan ker­ja, kantor dan pergaulan, di lingkungan terkecil yaitu rumah tangga, Yudi juga menjadikan semangat itu sebagai sendi-sendi dasar dalam membangun ke­luar­ga bahagia dan sejahtera.

“Semangat ini, juga terus sa­ya tanamkan ke­pada ke­luar­ga, ter­uta­ma anak. In­tinya, sebelum me­ne­rap­kan­nya di ling­ku­ngan per­gau­lan yang lebih luas, keluarga adalah wadah yang paling menentukan,” tandas Yudi. (*)

Laporan: Rahmad