Francisco Sagasti Terpilih Sebagai Presiden Ketiga Peru dalam Sepekan

oleh -24 views

Kabarsiana.com, LIMA – Kongres Peru pada Senin (16/11) memilih anggota parlemen Francisco Sagasti sebagai presiden sementara negara itu, dalam upaya untuk meredakan krisis politik yang memuncak setelah demonstrasi yang rusuh dan mundurnya dua presiden dalam sepekan terakhir.

Sagasti, dari Partai Morado sentris, memenangkan cukup suara untuk memimpin Kongres, yang berarti dia secara konstitusional akan mengambil alih kursi kepresidenan Peru menjelang pemilihan nasional yang diadakan pada April, demikian diwartakan Reuters.

Pria berusia 76 tahun itu akan menjadi presiden ketiga Peru dalam seminggu, setelah pemimpin sementara Manuel Merino mengundurkan diri pada Minggu (15/11), lima hari setelah dilantik menyusul penggulingan Martin Vizcarra yang sentris.

Pencopotan Vizcarra, yang populer di kalangan banyak warga Peru tetapi membuat marah anggota parlemen dengan dorongannya untuk langkah-langkah anti-korupsi dan upaya untuk mengekang kekebalan parlemen, memicu protes berhari-hari yang menyebabkan kematian dua demonstran.

“Hari ini bukanlah hari perayaan,” kata Sagasti, dengan nada muram pada kata-kata pertamanya setelah menjabat di Kongres.

Baca Juga :   China Ledakkan Bendungan untuk Atasi Banjir

“Kita tidak dapat kembali, menghidupkan mereka kembali, tetapi kami dapat mengambil tindakan dari Kongres, dari Eksekutif, sehingga ini tidak terjadi lagi,” lanjutnya berbicara mengenai kematian kedua demonstran.

Sagasti, mantan pejabat dan pejabat Bank Dunia, menghadapi tantangan berat untuk membawa stabilitas ke negara produsen tembaga nomor dua dunia itu. Peru telah terpukul parah oleh pandemi Covid-19 dan menuju kontraksi ekonomi terburuk dalam satu abad.

Tak lama setelah pemungutan suara, Sagasti melangkah keluar gedung Kongres, mengangkat tangannya ke sorakan penonton. Kerumunan di alun-alun pusat Lima juga menyambut pemilihannya dengan perayaan.

Banyak warga Peru berharap penunjukan Sagasti akan menandai berakhirnya demonstrasi meski tampaknya masih ada kemarahan terhadap pemerintah di kalangan rakyat. (*/dka)