Festival Sumarak Minangkabau 2019 Resmi Ditabuh

oleh -172 views

Kabarsiana.com, JAKARTA – Perantauan Minang, nampaknya benar-benar menguasai panggung nusantara. Belum lepas dari ingatan suksesnya pagelaran Sumbar Expo di Kota Medan, lalu Minangkabau Festival di anjungan Sumatera Barat TMII pekan lalu, kini giliran Jakarta Selatan yang disemarakkan oleh tradisi dan budaya Ranahminang melalui acara Festival Sumarak Minangkabau 2019.

Bertempat di Blok M Square, anak nagari Ranahminang mempertunjukkan betapa besar dan semaraknya Ranahminang. Meski digelar di tanah rantau, tak mengurangi makna dari Sumarak Minangkabau itu sendiri.

Apalagi, kegiatan yang digelar di penghujung tahun itu, dibuka langsung oleh salah seorang anak nagari yang terbilang sukses dalam karir birokratnya di tanah rantau yaitu  Dr. Drs. Rydonnyzar Moenek, M Devt, M.

“Festival Sumarak Minangkabau tak hanya untuk menunjukkan ke pentas nasional budaya Ranahminang, juga kita perlihatkan kepada masyarakat ibu kota, perwakilan negara sahabat, betapa besarnya Ranahminang,” ucap Reydonnyzar dalam sambutannya.

Sebagai putra Minang, pria yang akrab disapa Donnie itu pun, menyapa para pengunjung dengan menyebutkan seluruh daerah di Sumatera Barat tanpa ada yang terlupa satu pun.

“Festival Sumarak Minangkabau, selain merupakan panggung budaya dan hiburan, juga sekaligus sebagai panggung yang tepat untuk menunjukkan soliditas, kekompakan, persatuan dan kesatuan para perantau Minang dimanapun berada, untuk bersama-sama membangun kampung halaman serta bersama-sama pula membangun daerah perantauan,” jelasnya.

Sebagai salah seorang perantau Minang yang bekerja sebagai birokrat professional, Donnie yang digadang-gadang sebagai salah satu calon kuat Gubernur Sumatera Barat ini tak mampu menyembunyikan kebanggaannya dengan kiprah dan pengaruh urang awak di perantauan.

Baca Juga :   Eksekusi Massal di Irak, 21 Teroris dan Pembunuh Digantung

“Di manapun orang Minang itu merantau, maka dapat dipastikan ia akan mampu segera beradaptasi dan turut serta berkontribusi membangun daerah di perantauan tersebut.

Oleh karena itu, tidak ada dalam sejarahnya orang Minang yang dibenci dan dimusuhi. Bahkan keberadaan orang Minang di sebuah tempat sangat dirindukan karena membantu terbukanya kesempatan kerja dan mempercepat perputaran roda ekonomi daerah di mana ia berada. Jadi, kalau boleh saya mengeluarkan teori pada malam ini, saya akan katakan, di mana ada orang Minangkabau, maka di sana akan ada akselerasi perekonomian,” paparnya serius.

 

Hal itu diungkapkan Donnie, disebabkan dengan data dan fakta yang ditemuinya di lapangan. Di mana ada orang Minangkabau maka di sana terjadi akselerasi perekonomian alias percepatan ekonomi.

Sebagai mantan Dirjen Bina Keuangan Daerah, Donnie mengetahui secara persis bagaimana potensi daerah serta bagaimana struktur dan implementasi pengelolaan keuangan di tiap daerah se-Indonesia.

Ada hal yang menarik dalam pengamatan tersebut, yakni pada lokasi-lokasi di setiap daerah, yang diasumsikan sebagai titik-titik di mana terjadinya percepatan roda ekonomi, ditemukan adanya konsentrasi pedagang Minangkabau.

“Di Jakarta, kita mengenal lokasi penyumbang devisa terbesar adalah Tanah Abang, tahu sama tahu, di sana didominasi oleh pedagang Minang. Di Blok M, juga demikian, nyaris dikatakan pedagang Minang menguasai segala lini. Di Bandung, kita kenal pusat perbelanjaan Pasar Baru ada Pasar Baru Trade Center, di Surabaya kita kenal ada Pasar Blauran Baru, Pasar Baru Keputih, bahkan kawasan perbelanjaan di jalan Malioboro Yogyakarta  yang didominasi para pedagang Minang,” urainya.

Baca Juga :   Bukan Janda Bolong, Ternyata Philodendron dan Calathea Paling Diburu

Itu kata Sekjend DPD RI ini, belum termasuk rumah makan Padang yang tersebar di seantero tanah air bahkan mancanegara. Sehingga sampai ada anekdot, ketika Neil Amstrong, astronot Amerika yang dikenal sebagai manusia pertama kali memijakkan kaki di bulan, kaget lantaran di bulan melihat sudah tegak berdiri rumah makan Padang.

Suksesnya orang Minang di perantauan kata Donnie karena berkait dengan filosofis yang telah diajarkan turun menurun dari nenek moyang kita. Yang pertama adalah, “dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang.” Ini norma inti perantau Minang yang telah diadopsi menjadi kultur dan bahasa Indonesia, “Dimana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung” maksudnya agar setiap orang yang merantau dan bepergian ke sebuah tempat yang baru, agar segera menyesuaikan diri dengan adat istiadat di tempat barunya itu.

Filosofi kedua yakni “baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” mengharuskan agar kita mengambil pelajaran dan menuntut ilmu pada mereka yang telah sukses, dan pandai-pandai mengambil hikmah dari kegagalan orang lain. Artinya, jangan malu dan ragu untuk bertanya dan mempelajari pengalaman orang lain, mengapa ia sukses atau mengapa pula ia gagal, untuk diambil pelajaran kehidupannya.

Baca Juga :   Bareskrim Tolak Laporan Terhadap Andre Rosiade

Norma ketiga adalah, “indak ado rotan akapun jadi”. Ini prinsip panjang akal. Orang Minang selalu punya cara untuk mencari solusi dengan mempergunakan potensi yang ada dengan tetap mendapatkan hasil yang maksimal.

Prinsip keempat adalah “Takuruang nak di lua, taimpik nak di ateh.” Inilah kehebatannya orang Minang, kalau terkurung ia maunya di luar, kalau terhimpit ia maunya di atas.

“Ini bukan berarti sebuah kelicikan, ini lebih diartikan sebagai optimisme yang besar dalam diri orang Minangkabau. Meskipun gagal, dia akan menjadikan kegagalannya itu sebagai pemicu agar dirinya makin giat berusaha, gigih mencari jalan ke luar, dan sebagainya. Meskipun terjepit, orang Minang itu akan optimis akan menemukan opsi-opsi lain, thinking outside the box, sehingga akhirnya menempati posisi di atas,” terangnya.

Donnie berharap, Festival Sumarak Minangkabau bisa memberikan banyak manfaat dan keuntungan, tak hanya bagi perantauan Minangkabau di tanah rantau, pun juga masyarakat ibu kota yang menyaksikannya.

Sebagaimana diberitakan kabarsiana.com srbrlumnya, Festival Sumarak Minangkabau 2019 akan digelar hingga Minggu. Di arena acara, pengunjung akan dimanjakan dengan beragam atraksi budaya, hiburan serta kuliner.(ted)