Ekstrak Kopi Robusta Miliki Potensi Jadi Obat Luka

oleh -49 views

Kabarsiana.com, SLEMAN — Luka insisi merupakan luka yang terjadi akibat irisan benda tajam. Penyembuhan lukanya merupakan proses yang dinamis dan kompleks dengan tujuan memulihkan struktur anatomi dan fungsi kulit.

Ragam sistem imunologi dan biologi berpartisipasi dalam terkoordinasi lewat tiga fase berbeda mulai respon inflamasifase, proliferative dan fase pemodelan ulang. Di proses inflamasi terjadi reaksi vaskular.

Sehingga, cairan, elemen-elemen darah, sel darah putih (leukosit) dan mediator kimia terkumpul di tempat yang cedera untuk menetralkan dan menghilangkan agen-agen berbahaya. Serta, memperbaiki jaringan rusak.

Inflamasi ditandai beberapa gejala seperti timbulnya warna kemerahan, rasa panas, sakit, pembengkakan dan gangguan fungsi jaringan. Proses penyembuhan dapat dipercepat dengan senyawa bersifat anti-inflamasi.

Tujuannya, mengurangi tanda-tanda peradangan. Senyawa anti-inflamasi ini seperti yang terkandung di kopi robusta (Cofeea canephora), dan diteliti mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Ada Anisa Ratih Pratiwi (Prodi Pendidikan Biologi), Asmi Aris (Prodi Pendidikan Kimia) dan Denda Wiguna (Prodi Biologi). Anisa mengatakan, kopi robusta dapat dipakai menambah kecepatan berpikir dan inspirasi.

Baca Juga :   Barcelona Jadi Klub Sepak Bola dengan Followers Terbanyak di Dunia

Serta, sembuhkan rasa kantuk, kelelahan, meningkatkan sensor stimuli, reaksi motorik, melebarkan pembuluh darah, mendorong aliran sekresi cairan maupun sekresi padat dari dalam tubuh agar badan lebih segar.

“Serbuk kopi robusta dapat mengatasi berbagai jenis luka, mulai dari luka tergores benda tajam, luka bakar sampai luka koreng yang sudah terinfeksi,” kata Anisa, Senin (9/12).

Mereka melakukan penelitian membuat salep ekstrak kopi robusta yang diuji ke tikus putih dewasa galur wistar (Rattus novergicus). Asmi menjelaskan, penelitian dimulai dari esktraksi dan formulasi kopi.

Bahan yang digunakan kopi robusta, adeps lanae, etanol 70 persen, Vaselin Album, TEA, aquades dan Betadine. Sediaan salep yang akan dibuat dalam penelitian memiliki konsentrasi ekstrak kopi berbeda.

“Yaitu, 13 persen, 26 persen dan 52 persen untuk tiga kali pemakaian dalam sehari selama tujuh hari pengamatan,” ujar Asmi.

Hewan yang dipakai uji coba tikus putih dewasa (Rattus norvegicus L.) jantan galur wistar sebanyak 15 ekor dengan umur dua bulan dan berat badan 180-200 gram. Mereka ditimbang dan dikelompokkan secara acak.

Baca Juga :   Update Corona per 28 April: 9.511 Positif, 1.254 Sembuh, 773 Meninggal

Tiap kelompok terdiri atas tiga ekor jadi lima kelompok. Kelompok K1 diberi pakan standar dan salep tanpa ekstrak kopi, kelompok K2 diberi pakan standar dan diberi betadine, kelompok K3 diberi pakan standar.

Lalu, diberi salep ekstrak kopi robusta 13 persen. Kelompok K4 diberi pakan standar dan diberi salep ekstrak kopi 26 persen, dan kelompok K5 diberi pakan standar dan diberi salep ekstrak kopi 52 persen.

Pemberian salep anti-inflamasi dilakukan dengan cara memberi kepada bagian tikus dengan dosis 0,4 mililiter selama tujuh hari. Denda menambahkan, mereka lalu mengamati kondisi fisik dari luka insisi.

“Meliputi warna, berair atau tidaknya, dan lebar luka, kondisi luka pada hari pertama semua berwarna merah karena berdarah, luka lebar,” kata Denda.

Hari kedua semua luka mengalami pembengkakan, warna masih merah dan berair. Pada hari ketiga semua luka mengering, pembengkakan sedikit reda dan warna luka menjadi kecoklatan.

Pada hari ketiga sampai keenam kondisi luka makin membaik, tidak terjadi pembengkakan sampai lebar luka pun mengecil, warna luka menjadi coklat gelap. Hari terakhir pengamatan terlihat perbedaan.

Baca Juga :   Selama 2020, 479 Kali oleh Angin Puting Beliung "Hajar" Indonesia

Perbedaan cukup kontras. Kontrol negatif (salep tanpa ekstrak) luka masih membekas dan berwarna kehitaman, kontrol positif (betadine) luka tidak berwarna atau bisa dikatakan sembuh.

Salep ekstrak kopi robusta konsentrasi 13 persen hanya menyisakan sedikit bekas luka, salep konsentrasi 26 persen menghasilkan bekas luka hitam dan salep konsentrasi 52 persen masih sisakan luka coklat.

Dari sini, dapat diperingkat penyembuhan luka dari yang terbaik. Betadine, salep ekstrak kopi robusta 13 persen, kontrol negatif, salep konsentrasi 26 persen dan yang salep konsentrasi 52 persen.

Berdasarkan penelitian uji efektifitas salep ekstrak kopi robusta
(Coffea canephora) terhadap luka insisi pada tikus putih jantan galur wistar, potensi khusus penelitian ini ada dari bidang kesehatan.

Penelitian ini menjadi penelitian awal untuk melibatkan kopi robusta sebagai bahan campuran obat luka. Khususnya, luka yang diakibatkan benda tajam yang berupa salep. (*/rol)