BJ Habibie, Presiden yang Ahli Pesawat Terbang Tiada Banding

oleh -12 views

BACHARUDDIN Jusuf Habibie merupakan nama lengkap dari BJ Habibie. Beliau lahir pada 25 Juni 1936 di Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Presiden ketiga Indonesia ini menempuh pendidikan SMA di SMAK Dago, Kota Bandung pada tahun 1954. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di ITB (Institut Teknologi Bandung).

Namun, hanya beberapa bulan di ITB kemudian Ia memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya untuk bersekolah di Jerman. Namun berbeda dengan yang lainnya, Ia tidak menggunakan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman melainkan dengan menggunakan biaya sendiri dari ibunya yaitu R.A. Tuti Marini Puspowardojo.

Mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yaitu teknologi maritim dan teknologi dirgantara dikala Indonesia waktu itu masih berkembang akhirnya BJ Habibie diberi kesempatan belajar di Jerman.

Pada waktu itu pemerintah Indonesia dibawah Soekarno gencar membiayai ratusan siswa cerdas Indonesia untuk mengemban pendidikan di luar negeri dan menimba ilmu disana. Habibie merupakan rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Kemudian

Baca Juga :   Tan Malaka, Tokoh Berjuta Misteri

Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule.
Pendidikan yang ditempuh BJ Habibie diluar negeri bukan pendidikan kursus kilat akan tetapi merupakan sekolah bertahun – tahun sambil kerja praktek.

Sejak awal Habibie memang tertarik dengan how to build commercial aircraft bagi rakyat Indonesia yang menjadi ide Soekarno di masa jabatannya. Darisana kemudian muncul perusahaan – perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya IPTN. Kemudian ketika BJ Habibie sampai di Jerman,

Habibie punya tekad untuk sungguh – sungguh di perantauan dan harus pulang membawa kesuksesan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupan sehari – harinya. Beberapa tahun kemudian, di tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar disana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliau yang punya paspor hijau atau swasta daripada teman yang lain.

Bagi Habibie di perantauan, musim liburan bukan liburan bagi beliau justru menjadi kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Setelah masa liburan berakhir, semua kegiatan dikesampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman – temannya yang lain, mereka lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian. Kemudian pada tahun 1960,

Baca Juga :   Relawan Politik Pendukung Fakhrizal - Genius Umar, Apresiasi Sikap Feri Amsari Kritisi KPU Sumbar

BJ Habibie mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule dengan predikat cumlaude (sempurna) yang nilai rata – ratanya mencapai 9,5. Dengan gelar insinyur yang sudah dikantongi kemudian membuat Habibie muda mendaftarkan dirinya untuk bekerja di Firma Talbot yang merupakan sebuah industri kereta api Jerman.

Setelah itu beliau melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fure Maschinenwesen Aachen kemudian menikah di tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman. Hidupnya semakin keras di Jerman, pagi – pagi

Habibie harus jalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat biaya hidup kemudian pulang malam hari dan belajar untuk kuliahnya. Memang penuh liku akan tetapi mendapatkan hal yang manis di akhir hidupnya dengan pulang ke Indonesia membuat pesawat Indonesia kemudian menjadi presiden RI.

Habibie punya kegemaran menunggangi kuda dan membaca. Ia dikenal cerdas sejak duduk di bangku sekolah dasar, namun ia harus kehilangan ayahnya tercinta yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena serangan jantung. Ia adalah sosok yang populer sejak sekolah dengan segudang prestasi yang dimilikinya.

Baca Juga :   Awaloedin Djamin, Kapolri Pertama dan Satu-satunya Asal Ranahminang

BJ Habibie terkenal karena kecerdasannya yang memang sudah dikenal tak hanya di Indonesia, namun juga di negara lain. Beliau juga pernah menjabat kursi Presiden RI yang ketiga. Kecerdasan BJ Habibie ini pun sudah terbukti dengan adanya sebuah rumus yang bernama Faktor Habibie dimana rumus ini digunakan untuk menghitung keretakan pesawat dengan akurasi yang tinggi.

BJ Habibie kian disegani karena beliau juga mampu menunjukkan rasa cintanya kepada sang istri yang sudah tervisualisasi dalam sebuah film yang bertajuk Habibi dan Ainun yang dibuat beberapa tahun silam. Tak heran jika kini biografi BJ Habibie banyak dicari untuk lebih mengenal sosok beliau.***