Bersih-Bersih Ala Erick Tohir, Usai Garuda Sekarang Giliran Pertamina

oleh -103 views

Kabarsiana.com, JAKARTA – Sejak peristiwa memalukan yang menimpa Dirut Garuda Indonesia Ari Ashkara beberapa waktu lalu, Menteri BUMN Erick Thohir akhirnya tegas memperketat perizinan pembentukan anak, cucu sampai cicit BUMN lewat penerbitan Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-315/MBU/12/2019.

Beleid ini sudah terbit 12 Desember 2019 kemarin sekaligus telah disampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden (Wapres) RI KH Ma’aruf Amin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati, serta pejabat Kementerian BUMN lainnya.

Pasca-penerbitan kebijakan tersebut, pendirian anak perusahaan maupun perusahaan patungan di lingkungan BUMN bakal dihentikan sementara sampai Menteri BUMN melakukan pencabutan atas kebijakan tersebut. Aturan ini juga dapat berlaku pada perusahaan afiliasi yang terkonsolidasi ke BUMN termasuk cucu perusahaan dan turunannya.

Menteri BUMN Erick Thohir juga belum menghitung jumlah total anak hingga cucu usaha yang dimiliki perusahaan pelat merah. Akan tetapi, bersamaan dengan penyelidikan terhadap PT Garuda Indonesia, juga dilakukan penelusuran detil terhadap lebih dari 140 anak usaha perusahaan pelat merah vital seperti PT Pertamina (Persero).

Baca Juga :   Brasil Catat 7.218 Kasus Covid-19 dalam 24 Jam

“Belum tahu, belum dihitung (total jumlah anak perusahaannya),” kata Erick di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (13/12) kemarin.

Mengenai Peraturan Menteri BUMN yang baru saja dikeluarkannya, hal itu guna mengantisipasi berlomba-lombanya oknum entah di posisi manapun dari BUMN bersangkutan untuk menjadi komisaris di anak perusahaan yang mereka bentuk sendiri.

“Saya bukan suudzon, misalnya di Pertamina, itu ada 142 perusahaan. Tiba-tiba direksinya menjadi komisaris di 142 perusahaan. Itu kan lucu-lucuan (jadinya). (Seperti) Itu akan kami sikat,” tegasnya.

Terungkapnya 142 anak-cucu perusahaan dari Pertamina berdasarkan rapat bulanan yang dilakukan Erick dengan jajaran direksi dan komisaris perusahaan minyak dan gas bumi pelat merah tersebut.

Lebih lanjut, Menteri BUMN meminta jajaran direksi dan komisaris Pertamina segera memetakan bisnis dari masing-masing entitas anak perusahaan tersebut. Kemudian ikut diperiksa kondisi kesehatan dari masing-masing perusahaan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi keberadaan bisnis-bisnis yang justru merugikan perusahaan induk dalam hal ini Pertamina itu sendiri, bahkan lebih besar lagi merugikan keuangan negara.

Baca Juga :   Terlibat Sindikat Narkoba Internasional, Mantan Pemain Real Madrid Ditangkap Polisi

“Saya tidak mau jika bicara mengenai 142 anak perusahaan itu dengan (kenyataan) ada oknum-oknum yang menggerogoti Pertamina. Nah, saya sudah minta laporan dari direktur utama dan komisaris utama,” pungkasnya.

Sementara itu, beredar kabar bahwa akibat terlalu banyaknya anak perusahaan di bawah PT Pertamina (Persero). Menyikapi hal itu Dirut Pertamina Nicke Widyawati menyatakan bakal ikut arahan Menteri BUMN Erick Thohir yang terindikasi akan melebur mereka (anak perusahaan Pertamina) menjadi holding.

Menurutnya, holding merupakan kebijakan yang dianjurkan oleh Kementerian BUMN. Kementerian bahkan juga sudah sempat membentuk holding pada perusahaan pelat merah yang berada dalam satu sektor, misalnya Pertamina dan PGN. Kendati begitu, Nicke belum bisa memberi proyeksi berapa banyak perusahaan holding yang akan dihasilkan. Sebab, tidak mungkin seluruh anak dan cucu usaha digabungkan dalam satu perusahaan.

Perlu lebih dulu memetakan dan mengevaluasi kinerja masing-masing anak dan cucu usaha. Targetnya, proses ini bisa selesai dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Sehingga diperkirakan pada awal 2020 semua sudah bisa dieksekusi untuk peleburan menjadi holding. Pihaknya akan melihat bagaimana pola restrukturisasi yang paling tepat dan paling menghasilkan nilai tambah bagi Pertamina.

Baca Juga :   Josip Ilicic Gelontorkan Empat Gol ke Gawang Valencia

Tapi kendati opsi holding merupakan kebijakan yang paling tepat untuk membereskan menjamurnya anak dan cucu usaha perusahaan, keputusan penutupan usaha tidak bisa serta merta dilakukan sekalipun perusahaan (anak-cuicu usaha) memiliki lini bisnis yang berbeda dengan induknya. (*/rri)