400.000 Orang di Sektor Industri Migas Kehilangan Pekerjaan

oleh -18 views

Kabarsiana.com, JAKARTA  РPandemi Covid-19 telah berimbas pada semua lini bisnis, terutama sektor industri minyak dan gas bumi. Lemahnya permintaan minyak mentah dunia dan anjloknya harga minyak mentah akibat pandemi ini menyebabkan sejumlah perusahaan migas dunia harus memangkas biaya. Tak ayal, pemotongan biaya ini juga berdampak pada pengurangan karyawan perusahaan.

Menurut Rystad Energy, dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10), secara keseluruhan lebih dari 400.000 pekerja sektor minyak dan gas telah dipangkas pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar setengah dari jumlah tersebut berada di Amerika Serikat, tempat di mana beberapa perusahaan eksplorasi besar dan sebagian besar perusahaan jasa minyak besar bermarkas.

Dua hari lalu Exxon Mobil Corporation, perusahaan migas asal Amerika Serikat, baru saja mengumumkan akan memangkas tenaga kerjanya sebesar 15% atau sekitar 14.000 orang. Begitu juga dengan perusahaan migas lainnya seperti Chevron Corporation, Royal Dutch Shell Plc, maupun Inpex Corporation yang belum lama ini juga mengumumkan akan memangkas jumlah karyawan.

Virus corona ini telah menghancurkan sebagian besar ekonomi global, terutama sektor industri energi, perjalanan, dan jasa perhotelan di antara industri yang paling terpukul. Perusahaan energi sudah berjuang dengan tingkat keuntungan yang lemah, terutama yang beroperasi di kawasan lapangan shale gas AS, tetapi harus menggandakan pemotongan biaya karena investor menekan perusahaan agar bisa meningkatkan margin.

Baca Juga :   Bawaslu Temukan 1.098 Dugaan Pelanggaran di Pilkada 2020

“Realitas era Covid di seluruh industri minyak adalah penghematan dalam skala yang luar biasa. Tidak dapat dihindari fakta bahwa ini berarti, di antara hal lainnya, kehilangan pekerjaan,” kata Pavel Molchanov, Analis di Raymond James, seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10).

Selain Exxon, Chevron Corporation, Woodside Petroleum Ltd Australia dan Cenovus Energy Inc Kanada semuanya juga mengumumkan rencana pemangkasan karyawan dalam beberapa pekan terakhir.

Permintaan bahan bakar global bahkan merosot lebih dari sepertiga di musim semi. Meskipun konsumsi telah pulih, namun tetap lebih rendah dari tahun lalu dengan sejumlah negara kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown) untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin mengganas.

Penurunan permintaan sangat parah terjadi di Amerika Serikat, produsen minyak mentah terbesar di dunia. Negara ini telah mencatat jumlah kematian terbanyak gegara virus corona dan telah menyebabkan tingkat pengangguran meningkat menjadi sekitar 8%.

Menteri Energi A.S. Dan Brouillette mengatakan tidak mungkin untuk meningkatkan produksi minyak kembali ke puncak, mendekati 13 juta barel per hari (bph) yang dicapai pada 2019, di mana sebagian besar melalui penggunaan teknologi fracking yang digunakan oleh perusahaan shale oil. Industri shale oil terkena dampak pandemi paling besar karena mudah bagi perusahaan minyak untuk memangkas staf dan pengeluaran di sektor tersebut.

Baca Juga :   Banjir Bandang Luwu Utara: 21 Meninggal, 2 Hilang

Virus corona ini telah menghancurkan sebagian besar ekonomi global, terutama sektor industri energi, perjalanan, dan jasa perhotelan di antara industri yang paling terpukul. Perusahaan energi sudah berjuang dengan tingkat keuntungan yang lemah, terutama yang beroperasi di kawasan lapangan shale gas AS, tetapi harus menggandakan pemotongan biaya karena investor menekan perusahaan agar bisa meningkatkan margin.

“Realitas era Covid di seluruh industri minyak adalah penghematan dalam skala yang luar biasa. Tidak dapat dihindari fakta bahwa ini berarti, di antara hal lainnya, kehilangan pekerjaan,” kata Pavel Molchanov, Analis di Raymond James, seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10).

Selain Exxon, Chevron Corporation, Woodside Petroleum Ltd Australia dan Cenovus Energy Inc Kanada semuanya juga mengumumkan rencana pemangkasan karyawan dalam beberapa pekan terakhir.

Permintaan bahan bakar global bahkan merosot lebih dari sepertiga di musim semi. Meskipun konsumsi telah pulih, namun tetap lebih rendah dari tahun lalu dengan sejumlah negara kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown) untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin mengganas.

Baca Juga :   Bareskrim Polri Tangkap Paedofil Penculik Anak di Bekasi

Penurunan permintaan sangat parah terjadi di Amerika Serikat, produsen minyak mentah terbesar di dunia. dan telah menyebabkan tingkat pengangguran meningkat menjadi sekitar 8%.

Menteri Energi A.S. Dan Brouillette mengatakan tidak mungkin untuk meningkatkan produksi minyak kembali ke puncak, mendekati 13 juta barel per hari (bph) yang dicapai pada 2019, di mana sebagian besar melalui penggunaan teknologi fracking yang digunakan oleh perusahaan shale oil. Industri shale oil terkena dampak pandemi paling besar karena mudah bagi perusahaan minyak untuk memangkas staf dan pengeluaran di sektor tersebut.(*/wia)