3 Orang Pelaku Praktik Aborsi Illegal Diamankan Ditreskrimsus Polda Banten

oleh -24 views

Kabarsiana.com, SERANG – Ditreskrimsus Polda Banten berhasil mengungkap kasus praktek aborsi di klinik Sejahtera yang berada di Kampung Cipacung, Kecamatan Kaduhejo, Pandeglang.

Kapolda Banten Irjen Pol Drs. Fiandar melalui Direskrimsus Kombes Pol Nunung Syaifuddin kepada awak media menjelaskan pengungkapan kasus tersebut saat menggelar ekspose keberhasilan pengungkapan kasus oleh Tim Subbid IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Banten pada Selasa (3/11) di ruang Press Conference yang di dampingi oleh Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edi Sumardy.

Menurut Nunung Syaifudin, pengungkapan itu bermula dari adanya laporan masyarakat terkait adanya praktik aborsi illegal di Klinik Sejahtera oleh pelaku NN (53) tahun yang berprofesi sebagai seorang bidan.

Saat itu, pada Senin (26/10) sekitar pukul 16.00 wib, polisi mengamankan sepasang kekasih inisial RY (23) tahun warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak dan W (23) yang juga warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak, mereka diduga telah melakukan aborsi di klinik milik pelaku.

“Pasangan itu diduga kuat telah melakukan aborsi atau menggugurkan seorang bayi di sana,” kata Kombes Nunung menjelaskan.

Baca Juga :   IDI Keluarkan Travel Advice untuk Wisatawan RI

Dari lokasi itu lanjut Nunung, tiga orang berhasil diamankan petugas di lokasi.Mereka adalahl NN (53) selaku pemilik klinik, seorang asisten bidan berinisial E (38) yang membantu aborsi dan seorang perempuan yang sedang menggugurkan kandungannya berinisial RY (23).

Ry dan W saat diinterogasi petugas, membenarkan bahwa mereka baru saja menggugurkan janin yang baru satu bulan umurnya di klinik sejahtera.

Berdasarkan informasi tersebut, petugas melakukan pemeriksaan kepada bidan tersebut dan mengakui usai melakukan aborsi kepada pasiennya.

“Dalam kasus tersebut, kami mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain baskom, alat kesehatan berupa alat suntik, alat injeksi dan uang tunai Rp 2,5 juta. Dan selanjutnya yang terlibat digelandang ke Mapolda Banten,” imbuh Nunung.

Berdasarkan keterangan dari NN, ternyata praktek aborsi itu telah dilakukannya sejak tahun 2006 silam. Pasiennya pun diperkirakan telah mencapai 100 orang.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi menambahkan, Bidan NN melakukan perbuatan itu untuk mencari keuntungan, sedangkan RY selaku pasien, tidak menghendaki lahirnya bayi yang ada dalam kandungannya.

Baca Juga :   Pasien Positif Corona Indonesia Jadi 117 Orang

Ditambahkan, Bidan NN E selaku asisten dijerat dengan pasal 194 jo pasal 75 ayat (2) UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan (setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar).
.
“Sedangkan RY dikenakan pasal 346 KUH Pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun,” tandas Edy. (rel/yen)