Dahsyatnya Teknologi Militer Cina

oleh -23 views

JIKA menilik agresivitas Cina di Laut China Selatan (LCS) dari segi perkembangan teknologi militernya, perkembangan teknologi dari China patut untuk dikaji secara seksama.

Cina yang memiliki kepentingan di Laut China Selatan berpotensi memiliki konflik kepentingan dengan Indonesia di perairan Natuna yang sebagian wilayahnya masuk dalam klaim Nine Dashed-Lines Cina.

Menurut Pakar Geostrategi Ian Montratama, industri pertahanan Cina telah mampu memproduksi rudal balistik DF-31A yang berdaya-jangkau 11,2 ribu km. Rudal yang diproduksi oleh Academy of Rocket Motors Technology (ARMT) ini mampu menjangkau daratan Indonesia. Cina bahkan telah mengembangkan rudal yang lebih canggih, yang dinamakan DF-41, dengan dayajangkau 12 ribu – 15 ribu km.

Cina juga telah merekayasa rudal DF-31 untuk dapat diluncurkan dari kapal selam tipe 094 (dengan nama rudal JL-2). Kapal selam tipe 094 sendiri merupakan kapal selam bertenaga nuklir yang diproduksi oleh Bohai Shipyard (di Huludao) sejak tahun 2007.

“Kapal selam ini mampu mengusung dua belas rudal JL-2 yang dapat menjangkau seluruh wilayah daratan di muka bumi ini,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Mata Indonesia News, Sabtu (16/5).

Baca Juga :   Lima Negara Tuntut Kompensasi Korban Pesawat Ukraina pada Iran

Dari segi teknologi maritim, Cina telah mampu membangun kapal induk sendiri. Kapal induk pertama merupakan modifikasi dari kapal induk bekas dari Rusia berkelas Varyag yang dinamakan Liaoning. Kapal induk Liaoning itu mampu mengangkut 24 jet tempur Shenyang J-15 Flying Shark.

Kata Ian, saat ini Cina tengah membangun kapal induk buatan sendiri oleh Dalian Shipbuilding Industry Company, dengan tonase lima puluh ribu ton. Kapal induk dan kapal selam bertenaga nuklir merupakan instrumen proyeksi kekuatan Cina di daerah sengketa, seperti di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

Cina juga menerapkan strategi Anti Access/Aerial Denial (AA/AD) dengan tujuan untuk menangkal penetrasi serangan musuh, baik berbasis pesawat berawak, drone, kapal perang maupun rudal dari jarak jauh.

“Jika udara mampu dikendalikan, maka Cina dapat mengendalikan lautan, terutama di dua zona maya yang dinamakan First Island Chain dan Second Island Chain,” katanya.

Di bidang teknologi dirgantara, Cina telah mampu memproduksi pesawat tempur siluman (generasi kelima). Chengdu Aerospace Corporation memproduksi J-20 Mighty Dragon yang mulai beroperasional sejak tahun 2016. Pesawat ini menjadi pesaing pesawat tempur utama F-22 Raptor buatan Lockheed Martin dan Boeing dari AS.

Baca Juga :   Bendungan Jebol, Gubernur Michigan Tetapkan Status Darurat

Sedangkan Shenyang Aircraft Corporation memproduksi J-31 Gyrfalcon diproduksi oleh Shenyang Aircraft Corporation, yang menjadi rival F-35 Joint Strike Fighter buatan Lockheed Martin (AS).

Cina juga sudah mengembangkan pesawat terbang tanpa awak (PTTA) strategis Soar Dragon, pada tahun 2011. PTTA ini dirancang oleh Chengdu Aircraft Corporation dan diproduksi oleh Guizhou Aircraft Industry Corporation untuk AU PLA.

PTTA ini dibuat untuk menyaingi PTTA RQ-4 Global Hawk buatan Northrop Grumman (AS). PTTA Soar Dragon diperkirakan akan dilengkapi dengan rudal balistik anti-kapal dan rudal jelajah.

Di bidang teknologi antariksa, Cina telah mampu memproduksi roket Long March 5 buatan China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT) pada tahun 2016 lalu, yang memiliki kapasitas 25 ribu kg. Dengan kemampuan ini, Cina dapat meluncurkan satelit (maupun stasiun bumi) secara mandiri.

“Cina juga telah mampu memproduksi satelit sendiri, baik satelit komunikasi, satelit pengintai dan satelit navigasi,” ujarnya.

Untuk satelit intai, Cina telah mampu membuat satelit Gaofen 4 yang canggih buatan Cina SpaceSat Co. Ltd. Sistem satelit itu mampu melakukan pengintaian 24 jam sehari untuk hampir seluruh lokasi di dunia (dengan interval 20 menit).

Baca Juga :   10 Negara Pemilik Bahasa Daerah Terbanyak di Dunia

Sedangkan untuk satelit komunikasi, Cina mengklaim telah meluncurkan satelit komunikasi kuantum pertama di dunia yang anti penyadapan, bernama Quantum Science Satellite (QUESS), pada tanggal 15 Agustus 2016 lalu.

Khusus, untuk satelit navigasi, Cina tidak lagi bergantung pada sistem navigasi GPS dari AS maupun Glossnas dari Rusia yang sangat vital bagi sistem pemandu rudal.

Deskripsi tentang kemajuan teknologi militer Cina menjadi tanda bahwa pertempuran modern pada abad XXI akan didominasi teknologi canggih.

“Doktrin pertempuran TNI pun harus mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan teknologi militer di kawasan. Alutsista TNI harus dikembangkan sedemikian rupa untuk mampu mengimbangi lingkungan strategis,” kata Ian.(*/min)