PBB: Perempuan di Amerika Latin Paling Terdampak Covid-19

oleh -8 views

Kabarsiana.com, WASHINGTON –  Dalam laporan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (12/5) lalu, pandemi Covid-19 akan memperburuk situasi ekonomi bagi perempuan, kelompok masyarakat adat, migran, dan orang-orang keturunan Afrika di Amerika Latin. Wilayah itu selama ini dilanda ketimpangan yang tinggi.

Akses yang tidak merata ke air minum, sanitasi, perawatan kesehatan, dan perumahan, membuat tingkat infeksi dan kematian yang lebih tinggi di antara populasi berisiko tinggi tersebut. Hal itu disampaikan dalam laporan Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC) dikutip Aljazirah.

Laporan ECLAC juga menyebutkan, perempuan berada dalam “situasi yang sangat rentan”. Sebab, pekerjaan mereka lebih sering bersifat informal, dengan sedikit jaminan, yang membuat mereka lebih rentan terhadap risiko pengangguran.

Pekerja rumah tangga di Amerika Latin, yang menyumbang 11,4 persen perempuan yang bekerja di wilayah tersebut, akan sangat terpukul oleh virus dan penurunan ekonomi. Sementara, mereka memiliki akses terbatas ke jaring pengaman sosial.

Banyak pekerja rumah tangga adalah migran atau keturunan asli atau Afrika, yang memperparah diskriminasi. Perempuan kemungkinan besar dibebani dengan tanggung jawab yang datang saat pemberlakuan karantina dan penutupan sekolah.

Baca Juga :   Kasus Virus Corona di Afrika Lampaui 50.000

Keadaan itu meningkatkan tekanan di rumah dan potensi kekerasan dalam rumah tangga. “Beban pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar yang ditanggung oleh perempuan, remaja dan anak perempuan, serta kasus-kasus kekerasan terhadap mereka, meningkat secara signifikan,” kata laporan ECLAC.

Meskipun laporan PBB sebagian berfokus pada perempuan, data dari seluruh dunia telah menunjukkan, pria meninggal pada tingkat yang lebih tinggi daripada perempuan karena Covid-19. Amerika Latin memiliki lebih dari 369 ribu kasus terkonfirmasi virus corona baru dan lebih dari 20 ribu kematian akibat Covid-19.

Ekonomi kawasan itu akan berkontraksi dengan rekor 5,3 persen pada 2020, mengancam krisis sosial dan ekonomi terburuk dalam beberapa dasawarsa dalam laporan PBB yang dirilis April. Krisis itu diperkirakan akan memperburuk diskriminasi sosial dan masalah ketenagakerjaan pada penduduk asli dan Afrika-Latin. ECLAC menyatakan, mereka menghadapi kesenjangan upah yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok lain.

“Demikian juga, diskriminasi dan rasisme menghalangi akses efektif masyarakat adat dan keturunan Afrika ke layanan kesehatan,” kata laporan ECLAC. (***)